Insektisida Sistemik: Senjata Ampuh Menghajar Hama Tanaman

Insektisida sistemik adalah insektisida yang diserap tanaman melalui akar, batang, atau daun, lalu diedarkan ke seluruh jaringan tanaman. Dengan cara ini, hama yang menghisap atau memakan bagian tanaman akan mati karena terkena racun dari dalam.
Pendekatan ini berbeda dengan insektisida kontak yang hanya bekerja di permukaan tanaman. Karena itu, insektisida sistemik menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin perlindungan hama lebih menyeluruh, terutama pada tanaman yang rentan serangan hama penghisap.
Setelah memahami gambaran umumnya, sekarang saatnya Anda mengenal lebih dalam apa itu insektisida sistemik dari sisi istilah dan asal-usulnya.
Daftar isi:
- Mengenal Insektisida Sistemik: Asal Istilah dan Konsep Dasar
- Cara Kerja Insektisida Sistemik di Dalam Tanaman
- Keunggulan Insektisida Sistemik Dibanding Insektisida Biasa
- Bahan Aktif Populer pada Insektisida Sistemik
- Contoh Produk Insektisida Sistemik di Indonesia & Bahan Aktifnya
- Aplikasi Insektisida Sistemik: Cara Penggunaan yang Tepat
- Tips dan Trik Penggunaan Insektisida Sistemik
- Perbedaan Insektisida Sistemik dan Non Sistemik
- Integrasi Insektisida Sistemik dalam Pengendalian Hama Terpadu
- Kesimpulan
- FAQ Seputar Insektisida Sistemik
Mengenal Insektisida Sistemik: Asal Istilah dan Konsep Dasar
Secara etimologi, kata insektisida berasal dari bahasa Latin:
- insectum = serangga
- cida = pembunuh
Jadi, insektisida berarti “pembunuh serangga”. Sementara itu, istilah sistemik merujuk pada kemampuan suatu zat untuk bergerak dan menyebar di dalam sistem, dalam hal ini sistem jaringan tanaman (xilem dan floem).
Dengan menggabungkan dua istilah tersebut, insektisida sistemik berarti bahan pembasmi serangga yang bekerja dari dalam jaringan tanaman melalui sistem peredaran internalnya.
Dari sini, Anda bisa melihat bahwa insektisida sistemik tidak hanya “disemprot dan selesai”, tetapi bergantung pada proses fisiologis tanaman. Untuk memahami manfaat nyatanya, Anda perlu tahu cara kerja insektisida sistemik di dalam tubuh tanaman.
Cara Kerja Insektisida Sistemik di Dalam Tanaman
Insektisida sistemik memiliki mekanisme berbeda dibanding produk kontak. Secara garis besar, cara kerjanya melalui beberapa tahapan berikut:
- Penyerapan oleh tanaman
Insektisida sistemik diserap melalui akar (dari tanah atau larutan), batang, atau permukaan daun. Media paling umum adalah akar karena aliran air dan nutrisi berlangsung intens di sana. - Peredaran melalui xilem dan floem
Setelah terserap, bahan aktif akan mengikuti aliran air dan hasil fotosintesis di dalam jaringan xilem dan floem. Akibatnya, zat ini dapat mencapai daun muda, pucuk, bahkan bunga dan buah. - Masuk ke tubuh hama
Hama menghisap cairan tanaman (contoh: kutu daun, wereng, trips) atau memakan jaringan tanaman (contoh: ulat tertentu). Saat itu, insektisida sistemik ikut masuk ke tubuh serangga. - Mengganggu sistem vital serangga
Banyak bahan aktif insektisida sistemik bekerja dengan cara mengganggu sistem saraf atau metabolisme serangga. Hama akan lumpuh, berhenti makan, lalu mati.

Dengan alur kerja ini, insektisida sistemik dapat memberikan perlindungan lebih menyeluruh, bahkan ke bagian tanaman yang sulit dijangkau semprotan biasa. Setelah memahami cara kerjanya, kini kita masuk ke alasan mengapa produk ini banyak digemari.
Baca juga: Pestisida: Solusi Instan, Risiko Jangka Panjang? Wajib Tahu!
Keunggulan Insektisida Sistemik Dibanding Insektisida Biasa
Insektisida sistemik memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya menjadi pilihan utama di banyak lahan pertanian dan tanaman hias:
- Perlindungan dari dalam tanaman
Tanaman terlindungi dari akar hingga daun muda karena bahan aktif tersebar di jaringan internal. Jadi, hama yang datang terlambat tetap bisa dikendalikan. - Lebih efektif untuk hama penghisap
Hama seperti kutu daun, kutu kebul, wereng, trips, dan penggerek batang sangat rentan terhadap insektisida sistemik karena pola makannya langsung terkait cairan tanaman. - Tahan terhadap pencucian hujan
Karena bekerja dari dalam jaringan, insektisida sistemik tidak mudah hilang hanya karena terkena hujan. Hal ini membantu mengurangi frekuensi aplikasi. - Menjangkau bagian tanaman yang sulit disemprot
Pucuk yang rapat, bagian bawah daun, atau jaringan di dalam batang tetap mendapat perlindungan karena aliran sistemik. - Dapat menekan populasi hama secara bertahap
Hama yang muncul dari fase telur dan lalat muda akan langsung terkena efek ketika mulai menghisap tanaman.
Setelah mengetahui keunggulannya, Anda tentu penasaran bahan aktif apa saja yang biasanya digunakan dalam insektisida sistemik.
Bahan Aktif Populer pada Insektisida Sistemik
Berikut beberapa bahan aktif insektisida sistemik yang populer dan banyak ditemukan di pasar Indonesia:
- Imidakloprid
Termasuk golongan neonicotinoid. Sangat efektif untuk hama penghisap, seperti kutu daun, wereng, dan trips. - Abamektin
Sering diposisikan sebagai insektisida sekaligus akarisida. Memiliki efek translaminar yang kuat (masuk ke jaringan daun). - Dimehipo / Dimetoat
Golongan organofosfat. Dapat bekerja secara sistemik dan kontak, cocok untuk berbagai hama daun. - Tiametoksam
Neonicotinoid lain yang bersifat sistemik kuat. Banyak dipakai untuk perlindungan benih dan aplikasi pada tanaman muda. - Asam amino spinosad (spinosyn)
Walaupun tidak semua formulasi benar-benar sistemik, beberapa memiliki efek translaminar yang mendekati sistemik.
Dengan mengenali bahan aktif ini, Anda bisa lebih cermat memilih produk insektisida sistemik yang sesuai kebutuhan. Supaya lebih praktis, mari kita lihat contoh produk yang beredar di Indonesia.
Contoh Produk Insektisida Sistemik di Indonesia & Bahan Aktifnya
Di pasar Indonesia, insektisida sistemik hadir dalam berbagai merek dagang. Berikut beberapa contoh (nama bisa berubah seiring kebijakan perusahaan):
| Merek Dagang (Contoh) | Bahan Aktif Utama | Golongan | Target Hama Utama |
|---|---|---|---|
| Confidor | Imidakloprid | Neonicotinoid | Kutu daun, wereng, trips, kutu kebul |
| Admire | Imidakloprid | Neonicotinoid | Hama penghisap pada hortikultura |
| Actara | Tiametoksam | Neonicotinoid | Kutu daun, kutu kebul, trips, penggerek |
| Pegasus | Diafenthiuron | Tio-urea | Kutu daun, tungau, hama penghisap lain |
| Demolish / Bamex (dll) | Abamektin | Avermektin | Trips, tungau, ulat kecil |
| Rogor / Rogor 40 | Dimetoat | Organofosfat | Kutu daun, trips, beberapa jenis ulat |
Nama dan ketersediaan produk dapat berubah setiap saat, jadi Anda perlu selalu membaca label kemasan terbaru. Setelah mengetahui contoh produk, langkah selanjutnya adalah memahami cara aplikasinya secara benar.
Baca juga: Pestisida Organik: Tingkatkan Hasil Tanaman dengan Efektif
Aplikasi Insektisida Sistemik: Cara Penggunaan yang Tepat
Agar insektisida sistemik bekerja maksimal, cara aplikasinya harus sesuai dosis dan metode. Berikut beberapa cara umum:
1. Penyemprotan Daun (Foliar Spray)
Insektisida disemprotkan ke permukaan daun, lalu bahan aktif masuk ke jaringan daun (terutama jika memiliki efek translaminar).
- Gunakan nozzle halus agar sebaran merata.
- Semprot sampai daun bagian bawah terlapisi.
2. Penyiraman ke Tanah (Soil Drench)
Larutan insektisida disiram ke tanah di sekitar perakaran. Tanaman menyerapnya melalui akar.
- Cocok untuk tanaman pot, tanaman buah, dan tanaman hias.
- Pastikan tanah lembap agar penyerapan optimal.
3. Pengocoran ke Lubang Tanam
Sebelum tanam atau saat tanaman masih muda, larutan insektisida dikocorkan di sekitar pangkal tanaman.
- Metode ini efektif untuk melindungi tanaman baru dari serangan awal.
4. Perendaman Benih atau Stek
Beberapa insektisida sistemik bisa digunakan untuk melapisi benih atau stek tanaman.
- Biasanya dilakukan pada skala besar, misalnya di pertanian atau persemaian.
Setelah memahami teknik aplikasi, Anda perlu tips praktis supaya penggunaan insektisida sistemik tetap aman dan efektif.
Tips dan Trik Penggunaan Insektisida Sistemik
Untuk mengoptimalkan hasil sekaligus menekan risiko, Anda bisa menerapkan beberapa tips berikut:
- Baca label dan petunjuk pakai dengan teliti
Setiap produk memiliki dosis, interval, dan cara aplikasi yang berbeda. Ikuti petunjuk pabrik. - Gunakan alat pelindung diri (APD)
Sarung tangan, masker, dan pakaian kerja penting untuk melindungi kulit dan pernapasan Anda. - Gunakan pada waktu yang tepat
Aplikasi pagi atau sore hari lebih disarankan. Suhu tidak terlalu tinggi sehingga tanaman dan bahan aktif lebih stabil. - Rotasi bahan aktif
Jangan berulang kali menggunakan bahan aktif yang sama. Lakukan rotasi untuk mencegah resistensi hama. - Gabungkan dengan pengendalian non-kimia
Pengendalian hama terpadu (PHT) dengan musuh alami, sanitasi lahan, dan varietas tahan akan mengurangi ketergantungan pada insektisida. - Perhatikan masa pra-panen (PHI)
Ini penting untuk tanaman konsumsi. Jangan memanen sebelum melewati batas waktu aman yang tercantum di label.

Setelah menguasai cara penggunaan, Anda mungkin bertanya: bagaimana posisi insektisida sistemik dibanding insektisida non sistemik?
Perbedaan Insektisida Sistemik dan Non Sistemik
Untuk memahami perbedaan fungsi dan karakter kedua jenis insektisida, perhatikan tabel berikut:
| Aspek | Insektisida Sistemik | Insektisida Non Sistemik (Kontak) |
|---|---|---|
| Cara kerja utama | Diserap tanaman, menyebar di jaringan | Bekerja di permukaan tanaman |
| Target hama | Hama penghisap & pemakan jaringan | Hama yang terkena langsung semprotan |
| Rentan tercuci hujan | Relatif tidak mudah tercuci | Lebih mudah hilang saat hujan |
| Waktu kerja | Cenderung lebih lama | Umumnya lebih singkat |
| Kebutuhan cakupan semprotan | Tidak harus 100% merata | Harus merata ke seluruh permukaan |
| Risiko terhadap musuh alami | Bisa mempengaruhi hama penghisap luas | Tergantung bahan aktif dan teknik aplikasi |
Dari tabel ini, Anda bisa melihat bahwa insektisida sistemik dan non sistemik memiliki fungsi saling melengkapi. Penggunaan yang bijak seringkali memadukan keduanya dalam strategi pengendalian hama yang berkelanjutan.
Baca juga: Akar Tuba: Cara Praktis Jadi Pestisida Alami!
Integrasi Insektisida Sistemik dalam Pengendalian Hama Terpadu
Untuk hasil jangka panjang, insektisida sistemik idealnya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Beberapa langkah integrasi yang bisa Anda lakukan:
- Menggunakan varietas tanaman yang relatif tahan hama.
- Menjaga kebersihan lahan dan membuang sisa tanaman terserang.
- Memanfaatkan musuh alami (parasitoid, predator).
- Mengatur pola tanam dan rotasi tanaman.
- Menggunakan insektisida sistemik hanya ketika ambang serangan sudah mengancam hasil.
Dengan pendekatan ini, Anda tidak hanya mengendalikan hama, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesehatan pengguna.
Kesimpulan
Insektisida sistemik adalah solusi efektif untuk mengendalikan hama yang menyerang dari dalam, terutama hama penghisap dan pemakan jaringan. Bekerja melalui sistem peredaran tanaman, produk ini mampu memberikan perlindungan menyeluruh dari akar hingga pucuk.
Namun, penggunaan insektisida sistemik tetap perlu dilakukan secara bijak. Pemilihan bahan aktif yang tepat, metode aplikasi yang benar, dan integrasi dengan teknik pengendalian lain akan membantu Anda mendapatkan hasil panen yang maksimal tanpa mengorbankan kesehatan dan lingkungan.
FAQ Seputar Insektisida Sistemik
1. Apakah insektisida sistemik aman untuk tanaman?
Ya, selama dosis dan cara aplikasinya sesuai petunjuk label. Tanaman umumnya mampu mentoleransi bahan aktif pada konsentrasi yang dianjurkan. Overdosis dapat menyebabkan tanaman stres atau terbakar.
2. Berapa lama insektisida sistemik bekerja di dalam tanaman?
Durasinya bervariasi tergantung bahan aktif, dosis, jenis tanaman, dan kondisi lingkungan. Umumnya, efek perlindungan dapat bertahan dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
3. Apakah insektisida sistemik berbahaya bagi manusia?
Potensinya bisa berbahaya jika digunakan tanpa mengikuti prosedur keselamatan. Gunakan APD, patuhi masa pra-panen (PHI), dan simpan produk jauh dari jangkauan anak-anak serta makanan.
4. Bisakah insektisida sistemik dicampur dengan pupuk daun?
Beberapa produk bisa dicampur, tetapi tidak semuanya kompatibel. Lakukan uji kompatibilitas skala kecil dan baca label. Jika label melarang pencampuran, jangan memaksakan.
5. Apakah insektisida sistemik bisa membunuh semua jenis hama?
Tidak. Insektisida sistemik lebih efektif untuk hama penghisap dan beberapa hama pemakan jaringan. Untuk hama tertentu, seperti beberapa jenis ulat luar, siput, atau belalang, insektisida kontak atau metode lain mungkin lebih efektif.
6. Kapan waktu terbaik menggunakan insektisida sistemik?
Waktu yang disarankan adalah saat populasi hama mulai muncul, tetapi belum meledak. Aplikasi pada fase vegetatif awal sering menghasilkan perlindungan lebih baik.
7. Apakah insektisida sistemik bisa menyebabkan hama kebal?
Ya, jika satu bahan aktif digunakan terus-menerus tanpa rotasi. Untuk mencegah resistensi, lakukan rotasi bahan aktif berbeda golongan dan kombinasikan dengan metode non-kimia.
8. Apakah insektisida sistemik boleh digunakan pada tanaman hias di dalam rumah?
Boleh, selama Anda memperhatikan ventilasi ruangan, memakai APD, dan mengikuti dosis yang dianjurkan. Setelah aplikasi, sebaiknya ruangan diangin-anginkan.
9. Bisakah insektisida sistemik dipakai untuk semua jenis tanaman?
Tidak semua tanaman cocok. Beberapa komoditas memiliki batas residu ketat. Selalu periksa label apakah produk diizinkan untuk tanaman yang Anda budidayakan.
10. Bagaimana tanda insektisida sistemik mulai bekerja pada hama?
Biasanya hama mulai tampak lemas, bergerak lambat, berhenti makan, lalu jumlahnya menurun dalam beberapa hari. Pada hama penghisap, gejala bisa terlihat dari berkurangnya populasi di pucuk dan bagian bawah daun.
Dengan memahami insektisida sistemik dari definisi, cara kerja, hingga cara pakai yang tepat, Anda dapat mengelola hama tanaman secara lebih terarah dan efisien. Gunakan pengetahuan ini sebagai panduan, dan selalu utamakan keselamatan serta keberlanjutan dalam setiap aplikasi.
Salam tetanam!
jak@tetanam







