Pertanian dan Perubahan Iklim: Saatnya Ubah Strategi

Pertanian dan perubahan iklim kini saling terkait sangat erat. Dampaknya terasa langsung di sawah, kebun, dan ladang. Musim hujan dan kemarau sulit ditebak, tanaman cepat sakit, dan hasil panen mudah turun. Bila kondisi ini dibiarkan, ketahanan pangan akan terancam.
Agar mampu bertahan, kita perlu memahami dulu apa itu perubahan iklim dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertanian serta tanaman di lapangan.
Daftar isi:
- Definisi Perubahan Iklim
- Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian
- Pahami Tanda-tanda Perubahan Iklim
- Strategi Pertanian Adaptif
- Teknik Irigasi yang Efisien
- Pemupukan dan Pengelolaan Nutrisi
- Agroforestri sebagai Solusi
- Pengendalian Hama dan Penyakit
- Pendidikan dan Kesadaran Petani
- Inovasi Teknologi dalam Pertanian
- Kesimpulan
Definisi Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah perubahan pola cuaca jangka panjang di suatu wilayah, termasuk suhu, curah hujan, dan pola angin. Berbeda dengan cuaca harian yang berubah cepat, perubahan iklim terjadi dalam rentang waktu puluhan tahun.
Dalam konteks pertanian dan perubahan iklim, yang dimaksud adalah perubahan kondisi lingkungan yang memengaruhi langsung sistem budidaya: suhu meningkat, musim bergeser, serangan hama melonjak, dan tanah lebih cepat kering. Semua itu menentukan keberhasilan tanaman.
Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian
Dampaknya muncul di hampir semua tahap budidaya. Beberapa pengaruh utamanya:
- Hasil panen menurun karena tanaman stres oleh panas atau kekeringan.
- Kualitas tanaman menurun, misalnya buah lebih kecil atau banyak cacat.
- Serangan hama dan penyakit meningkat, karena siklus hidupnya lebih panjang.
- Ketersediaan air berkurang, sehingga irigasi makin sulit dan mahal.
Setelah memahami gambaran umum ini, langkah logis berikutnya adalah mengenali tanda-tanda perubahan iklim yang tampak jelas di lahan pertanian.
Pahami Tanda-tanda Perubahan Iklim
Pertanian dan perubahan iklim tidak hanya terbaca dari data ilmiah, tetapi juga dari perubahan pola di lapangan. Petani, pekebun, dan bahkan penghobi tanaman perlu jeli mengamatinya.
Perubahan Pola Curah Hujan
Dulu, musim hujan dan kemarau relatif teratur. Kini hujan bisa turun sangat lebat dalam waktu singkat, lalu berhenti lama. Perubahan pola curah hujan ini memunculkan beberapa persoalan:
- Banjir mendadak yang merusak akar dan batang tanaman.
- Genangan berkepanjangan yang membuat tanaman mudah busuk.
- Kemarau panjang yang menyebabkan tanah retak dan sulit diolah.
Akibatnya, jadwal tanam yang dulu mudah diprediksi kini menjadi taruhan. Selain hujan, suhu ekstrem juga perlu diperhatikan.
Suhu Ekstrem dan Dampaknya pada Tanaman
Terlalu tingginya suhu membuat tanaman cepat layu, menghambat fotosintesis, dan menurunkan produksi bunga maupun buah. Suhu yang terlalu rendah juga menghambat pertumbuhan.
Dampak nyata pada tanaman antara lain:
- Daun menguning, menggulung, atau mengering di bagian tepi.
- Bunga rontok sebelum sempat menjadi buah.
- Tanaman lebih mudah diserang jamur, bakteri, dan virus.
Karena tanda-tanda ini semakin sering muncul, pertanian dan perubahan iklim menuntut strategi budidaya baru yang lebih adaptif.
Baca juga: Eco Farming: Solusi Pertanian Berkelanjutan di Era Modern?
Strategi Pertanian Adaptif
Jika iklim berubah, cara bertani harus ikut berubah. Mengandalkan pola lama berisiko besar. Di sinilah konsep pertanian adaptif menjadi penting sebagai jawaban praktis terhadap perubahan iklim.
Pilihan Tanaman yang Tahan Iklim
Langkah pertama adalah memilih jenis tanaman dan varietas yang tahan terhadap kondisi ekstrem. Beberapa prinsip yang bisa diterapkan:
- Memilih varietas padi, jagung, atau kedelai yang toleran kekeringan atau genangan.
- Menggunakan tanaman hortikultura yang sudah diseleksi tahan panas, seperti varietas cabai, tomat, atau terong tertentu.
- Memanfaatkan tanaman lokal yang secara alami sudah beradaptasi dengan kondisi setempat.
Dengan memilih tanaman yang lebih kuat, risiko gagal panen berkurang. Namun, pemilihan tanaman saja belum cukup; sistem tanam juga perlu diatur.
Rotasi Tanaman untuk Meningkatkan Ketahanan
Rotasi tanaman adalah pergiliran jenis tanaman pada satu lahan dari satu musim ke musim berikutnya. Strategi ini membuat tanah lebih sehat dan tanaman lebih tahan terhadap gangguan.
Manfaat rotasi tanaman:
- Mengurangi penumpukan hama dan penyakit yang menyerang satu jenis tanaman.
- Memperbaiki struktur dan kandungan hara tanah, terutama bila diselingi tanaman legum.
- Membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi erosi.
Setelah pola tanam disesuaikan, tantangan berikutnya adalah pengelolaan air. Di titik ini, efisiensi irigasi menjadi sangat penting.
Teknik Irigasi yang Efisien
Pertanian dan perubahan iklim membuat air menjadi sumber daya yang semakin terbatas. Setiap tetes air harus digunakan seefektif mungkin.
Irigasi Tetes dan Manfaatnya
Irigasi tetes menyalurkan air langsung ke akar tanaman melalui selang berlubang kecil. Teknik ini memberi banyak keuntungan:
- Penghematan air karena penguapan berkurang.
- Air diarahkan tepat ke tanaman, bukan ke area kosong.
- Risiko penyakit akibat kelembapan berlebih di daun menurun.
Irigasi tetes cocok untuk berbagai tanaman, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Jika ingin lebih optimal, sistem ini dapat dikombinasikan dengan teknologi pengairan yang lebih cerdas.

Penggunaan Sistem Pengairan Pintar
Sistem pengairan pintar memanfaatkan sensor kelembapan tanah, timer, dan terkadang terhubung ke aplikasi di ponsel. Dengan cara ini:
- Penyiraman tanaman dilakukan sesuai kebutuhan nyata, bukan sekadar kebiasaan.
- Penggunaan air dan energi dapat dipantau dan dikendalikan lebih tepat.
- Jadwal irigasi mudah disesuaikan dengan perubahan cuaca.
Setelah air dikelola efisien, perhatian berikutnya adalah kesehatan tanah melalui pemupukan dan pengelolaan nutrisi yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga: Irigasi Tetes: Solusi Cerdas & Hemat Air untuk Pertanian
Pemupukan dan Pengelolaan Nutrisi
Tanah yang sehat adalah kunci ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim. Nutrisi yang cukup dan seimbang membuat tanaman lebih tahan stres.
Penggunaan Pupuk Organik untuk Meningkatkan Kesehatan Tanah
Pupuk organik, seperti kompos dan pupuk kandang matang, tidak hanya menyuplai hara bagi tanaman. Pupuk ini juga:
- Meningkatkan bahan organik tanah yang penting bagi struktur tanah.
- Membuat tanah lebih gembur sehingga akar tanaman mudah berkembang.
- Membantu tanah menahan air lebih lama, berguna saat kemarau.
Tanah yang kaya bahan organik membuat tanaman lebih tangguh menghadapi fluktuasi cuaca. Untuk hasil lebih baik, pupuk organik dapat diolah dengan fermentasi.
Teknik Fermentasi Pupuk untuk Mengurangi Dampak Negatif
Fermentasi pupuk organik menggunakan bantuan mikroorganisme untuk mempercepat penguraian. Teknik ini memberikan beberapa manfaat:
- Mengurangi bau menyengat dan menurunkan risiko organisme patogen.
- Mempercepat ketersediaan nutrisi bagi tanaman.
- Mengurangi emisi gas yang memperburuk perubahan iklim.
Jika tanah sudah sehat, kita dapat melangkah ke pengaturan tata ruang tanaman yang mampu menciptakan iklim mikro lebih stabil, yaitu melalui agroforestri.
Agroforestri sebagai Solusi
Agroforestri menggabungkan tanaman semusim dengan pohon dan tanaman perdu dalam satu sistem. Konsep ini relevan ketika membahas pertanian dan perubahan iklim karena bisa meningkatkan ketahanan ekologis lahan.
Manfaat Tanaman Perdu untuk Memperbaiki Kualitas Tanah
Tanaman perdu, seperti legum penutup tanah atau semak penghasil pupuk hijau, memberikan banyak manfaat:
- Akar membantu mencegah erosi dan memperkuat struktur tanah.
- Daun yang gugur menjadi mulsa dan menambah bahan organik.
- Beberapa tanaman perdu mampu mengikat nitrogen dari udara.
Akibatnya, tanah menjadi lebih subur dan tidak cepat rusak oleh curah hujan ekstrem. Selain tanaman perdu, keberadaan pohon juga berperan penting.

Peran Pohon dalam Mengatur Suhu dan Kelembapan
Pohon menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman bagi tanaman lain di sekitarnya:
- Kanopi pohon menurunkan suhu di sekitar tanaman.
- Akar yang dalam membantu siklus air dan menjaga kelembapan.
- Tajuk pohon mengurangi hentakan air hujan langsung ke permukaan tanah.
Namun, sistem tanam yang lebih kompleks ini juga mengubah dinamika hama dan penyakit. Karena itu, strategi pengendalian yang bijak tetap dibutuhkan.
Baca juga: Pertanian: Pilar Peradaban Manusia yang Tak Terpisahkan
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pertanian dan perubahan iklim sering memicu lonjakan populasi hama dan mempercepat penyebaran penyakit. Pengendalian yang hanya mengandalkan pestisida kimia justru memicu masalah baru.
Metode Pengendalian Terpadu untuk Mengurangi Kerugian
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menggabungkan beberapa metode untuk menekan populasi hama sampai ambang aman:
- Pengamatan tanaman secara berkala dan terencana.
- Pemanfaatan musuh alami seperti predator dan parasitoid.
- Pengaturan pola tanam dan jarak tanam agar hama sulit berkembang.
- Penggunaan pestisida kimia hanya ketika benar-benar dibutuhkan.
PHT membantu melindungi tanaman tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Salah satu teknik pendukung PHT adalah penanaman tanaman perangkap dan tanaman pendamping.
Tanaman Perangkap dan Jenis Tanaman Pendamping
Tanaman perangkap menarik hama agar beralih dari tanaman utama, sementara tanaman pendamping membantu mengusir hama atau menarik musuh alami.
Contoh penerapan:
- Menanam bunga tertentu di sela tanaman sayur untuk menarik serangga predator.
- Menanam tanaman beraroma kuat di tepi lahan untuk mengacaukan orientasi hama.
Semua strategi ini akan lebih efektif bila petani memahami prinsip-prinsipnya. Di sinilah pendidikan dan kesadaran menjadi faktor penentu.
Pendidikan dan Kesadaran Petani
Pertanian dan perubahan iklim hanya bisa dihadapi jika pengetahuan petani ikut berkembang. Tanpa peningkatan kapasitas, strategi adaptasi sulit berjalan.
Program Penyuluhan Pertanian untuk Meningkatkan Pengetahuan
Penyuluhan pertanian berperan penting dalam mempercepat adopsi praktik adaptif:
- Memberikan pelatihan tentang pemilihan tanaman dan teknik budidaya yang sesuai iklim baru.
- Memperkenalkan penggunaan pupuk organik, irigasi hemat air, dan teknologi sederhana.
- Menyediakan demplot agar petani bisa melihat hasil nyata di lapangan.
Namun, penyuluhan saja tidak cukup bila petani bekerja sendiri. Keterlibatan komunitas ikut memperkuat daya tahan kolektif.
Keterlibatan Komunitas dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Komunitas petani yang aktif dapat:
- Berbagi pengalaman soal tanaman yang tahan di kondisi lokal.
- Mengelola sistem pengairan dan infrastruktur bersama.
- Mengupayakan akses terhadap informasi, modal, dan teknologi.
Ketika pengetahuan sudah menyebar, langkah berikutnya adalah memanfaatkan inovasi teknologi yang terus berkembang di dunia pertanian.
Inovasi Teknologi dalam Pertanian
Pertanian dan perubahan iklim mendorong lahirnya banyak terobosan. Teknologi kini menjadi alat penting untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko.
Penggunaan Drone untuk Pemantauan Tanaman
Drone dapat membantu petani memantau lahan secara cepat dan akurat:
- Mengambil gambar area tanam dari udara secara berkala.
- Mendeteksi area yang kekurangan air atau terserang penyakit lebih dini.
- Menghemat waktu dan tenaga pada lahan yang luas.
Data visual ini membantu petani mengambil keputusan tepat, misalnya menentukan area yang perlu dipupuk atau disiram lebih intensif.

Aplikasi Pertanian Cerdas untuk Meningkatkan Efisiensi
Aplikasi di ponsel membantu mengelola banyak aspek budidaya:
- Mencatat jadwal tanam, penyiraman, dan pemupukan.
- Mengakses prakiraan cuaca harian dan musiman untuk perencanaan.
- Mencari informasi tentang jenis tanaman, hama, dan cara penanganan.
Ketika teknologi terintegrasi dengan praktik lapangan dan pengetahuan lokal, pertanian menjadi lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim.
Baca juga: Teknologi Pertanian Modern: Solusi Pangan Masa Depan
Kesimpulan
Pertanian dan perubahan iklim adalah dua hal yang kini tidak bisa dipisahkan. Pola hujan yang berubah, suhu ekstrem, dan meningkatnya hama menuntut petani mengubah cara mengelola tanaman.
Ringkasan Strategi yang Dapat Diterapkan
Beberapa langkah kunci yang bisa segera diterapkan:
- Mengamati tanda-tanda perubahan iklim di lahan sendiri.
- Memilih tanaman dan varietas yang lebih tahan iklim.
- Menerapkan rotasi tanaman dan sistem agroforestri.
- Menggunakan irigasi hemat air, seperti irigasi tetes dan sistem pintar.
- Memperkuat tanah dengan pupuk organik dan teknik fermentasi.
- Mengelola hama dengan pendekatan terpadu dan tanaman pendamping.
- Memanfaatkan penyuluhan, komunitas, drone, dan aplikasi pertanian cerdas.
Pentingnya Kerjasama dalam Menghadapi Tantangan
Tidak ada petani yang bisa menghadapi perubahan iklim sendirian. Kerja sama antara petani, penyuluh, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha sangat penting.
Dengan langkah yang terarah dan kolaborasi kuat, pertanian dan perubahan iklim dapat dikelola secara bijak. Tanaman tetap bisa tumbuh subur, dan lahan akan tetap produktif bila dikelola dengan strategi yang tepat.
FAQ
1. Apa hubungan pertanian dan perubahan iklim?
Pertanian memengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Praktik pertanian tertentu bisa memperparah emisi, sementara perubahan iklim mengganggu produktivitas tanaman dan ketersediaan air.
2. Bagaimana perubahan iklim mengganggu tanaman?
Perubahan iklim menyebabkan suhu ekstrem, pola hujan tidak menentu, dan peningkatan hama, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu dan hasil panen menurun.
3. Tanaman apa yang cocok untuk kondisi iklim yang berubah?
Tanaman lokal yang sudah beradaptasi, varietas padi, jagung, dan kedelai tahan kekeringan atau genangan, serta tanaman legum umumnya lebih tahan terhadap perubahan iklim.
4. Bagaimana cara menghemat air dalam pertanian?
Penghematan air dilakukan dengan irigasi tetes, mulsa, penampungan air hujan, dan penjadwalan penyiraman berdasarkan kelembapan tanah, bukan kebiasaan.
5. Mengapa pupuk organik penting dalam menghadapi perubahan iklim?
Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan bahan organik, mempertahankan kelembapan, dan mendukung mikroorganisme yang membantu tanaman bertahan.
6. Apa manfaat agroforestri bagi pertanian?
Agroforestri meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi erosi, menstabilkan suhu dan kelembapan, serta menambah keragaman tanaman sehingga lahan lebih tahan terhadap guncangan iklim.
7. Bagaimana mengendalikan hama tanpa bergantung pada pestisida?
Hama dapat dikendalikan dengan Pengendalian Hama Terpadu: pengamatan rutin, musuh alami, pengaturan pola tanam, dan penggunaan pestisida hanya jika benar-benar diperlukan.
8. Peran teknologi apa yang paling terasa bagi petani?
Drone, sensor tanah, dan aplikasi pertanian cerdas membantu pemantauan tanaman, pengelolaan air, serta perencanaan tanam yang lebih akurat dan efisien.
9. Mengapa penyuluhan pertanian penting dalam adaptasi iklim?
Penyuluhan membantu menyebarkan pengetahuan praktik adaptif, memberi pelatihan, dan menyediakan contoh nyata agar petani lebih cepat menerapkan strategi yang sesuai.
10. Langkah sederhana apa yang bisa dilakukan petani kecil?
Petani kecil dapat mulai dengan mengamati pola cuaca lokal, memakai pupuk organik, memilih tanaman yang lebih tahan, menghemat air, dan bergabung dengan kelompok tani.
Referensi:
- IPCC. (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis.
- FAO. (2016). Climate-Smart Agriculture: Sourcebook.
- Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (Berbagai tahun). Laporan dan modul penyuluhan terkait adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.
- CGIAR Research Program on Climate Change, Agriculture and Food Security (CCAFS).
Salam tetanam!
jak@tetanam







