Kelakai, Sayur Khas Kalimantan yang Wajib Anda Coba

Kelakai adalah sayur khas Kalimantan yang berasal dari tanaman paku liar bernama Stenochlaena palustris. Banyak orang juga menyebutnya kalakai, sementara di beberapa daerah dikenal sebagai pakis bang. Tanaman ini tumbuh alami di lahan lembap, rawa, dan tepian hutan tropis.
Yang membuat sayur kelakai menarik bukan hanya asalnya yang khas, tetapi juga rasa dan manfaatnya. Saat diolah dengan tepat, kelakai menghadirkan tekstur renyah lembut dengan rasa segar yang sedikit mirip pakis muda. Karena itu, sayur ini sering hadir dalam tumisan, sayur bening, hingga campuran kuliner tradisional Kalimantan.
Selain lezat, manfaat kelakai juga banyak dibicarakan. Masyarakat lokal sejak lama memanfaatkan tanaman ini sebagai sayuran bergizi, terutama karena kandungan mineral, serat, dan senyawa antioksidannya. Dari sini, Anda bisa melihat bahwa kelakai bukan sekadar sayur kampung, melainkan tanaman pangan lokal yang layak mendapat perhatian lebih luas.
Selanjutnya, mari kenali tanaman ini lebih dekat agar Anda memahami nilai gizi, jenis, dan potensi budidayanya.
Daftar isi:
Mengenal Tanaman Kelakai (Stenochlaena palustris)
a. Taksonomi
Berikut klasifikasi singkat tanaman kelakai:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Polypodiophyta
- Kelas: Polypodiopsida
- Ordo: Blechnales
- Famili: Blechnaceae
- Genus: Stenochlaena
- Spesies: Stenochlaena palustris
Taksonomi ini menegaskan bahwa kelakai termasuk kelompok tumbuhan paku yang dapat dikonsumsi, bukan sayuran daun biasa.
b. Morfologi
Kelakai memiliki batang merambat atau memanjat, dengan daun majemuk memanjang dan anak daun berbentuk lanset. Tunas mudanya berwarna hijau cerah hingga kemerahan, tergantung jenis dan kondisi tumbuh. Bagian inilah yang paling sering dipanen untuk dimasak.
Akar kelakai menyukai media lembap. Karena itu, tanaman ini sangat cocok tumbuh di rawa, tanah gambut, atau area dengan kelembapan tinggi. Daunnya yang muda terasa lebih lunak, sedangkan daun tua cenderung liat.

c. Negara Asal dan Sebaran Geografis
Kelakai banyak ditemukan di kawasan tropis Asia Tenggara. Tanaman ini tumbuh alami di:
- Indonesia, terutama Kalimantan
- Malaysia
- Brunei Darussalam
- Thailand selatan
- Filipina
- Papua Nugini
Di Indonesia, sayur kelakai paling identik dengan Kalimantan karena masyarakat setempat telah lama menjadikannya bahan pangan harian.
Setelah memahami identitas dasarnya, sekarang kita masuk ke jenis kelakai yang sering dikenal masyarakat.
Baca juga: Sayur Gonde: Dari Gulma Sawah Jadi Superfood Khas Nusantara
Jenis Tanaman Kelakai
Secara umum, masyarakat mengenal dua tampilan utama kelakai, yaitu kelakai hijau dan kelakai merah. Perbedaan ini biasanya terlihat pada warna pucuk muda dan tangkai daun.
1. Kelakai Hijau
Kelakai hijau memiliki pucuk dan daun muda berwarna hijau segar. Jenis ini paling umum dijual sebagai sayuran. Rasanya cenderung ringan, segar, dan mudah dipadukan dengan bawang, cabai, santan, atau terasi.
2. Kelakai Merah
Kelakai merah menunjukkan warna kemerahan atau semburat merah marun pada pucuk mudanya. Banyak orang menganggap jenis ini lebih menarik secara visual. Beberapa sumber lokal juga mengaitkan warna tersebut dengan kandungan pigmen antioksidan yang lebih tinggi, meski nilainya bisa berbeda tergantung habitat dan usia tanaman.
Walau tampilannya berbeda, keduanya tetap berasal dari kelompok kalakai yang sama dan sama-sama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Berikutnya, mari lihat kandungan nutrisinya agar Anda memahami kenapa sayur ini patut masuk menu rutin.
Kandungan Nutrisi Kelakai
Data nutrisi spesifik kelakai per 100 gram masih terbatas dan dapat berbeda menurut lokasi tumbuh, umur panen, serta metode analisis. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa pucuk Stenochlaena palustris mengandung mineral, serat, vitamin, dan senyawa bioaktif yang penting.
| Kandungan gizi per 100 g | Perkiraan jumlah |
|---|---|
| Energi | 30–40 kkal |
| Air | 85–90 g |
| Protein | 2–4 g |
| Lemak | <1 g |
| Karbohidrat | 4–7 g |
| Serat pangan | 1–3 g |
| Kalsium | 50–120 mg |
| Fosfor | 40–80 mg |
| Zat besi | 2–6 mg |
| Vitamin C | 10–30 mg |
| Senyawa fenolik/antioksidan | Terdeteksi, bervariasi |
Catatan: angka di atas bersifat kisaran dari beberapa penelitian dan laporan komposisi pucuk pakis edible, termasuk Stenochlaena palustris.
Rujukan awal untuk penelusuran data nutrisi:
Dari komposisi tersebut, kita bisa melihat bahwa kandungan kelakai cukup menjanjikan untuk pola makan seimbang.
Baca juga: Kenikir: Bunga Cantik, Sayur Lezat, Khasiat Sehari-hari
Manfaat Kesehatan Kelakai
Berdasarkan kandungan gizi dan pemanfaatan tradisionalnya, berikut beberapa manfaat kesehatan kelakai yang paling menonjol.
1. Membantu memenuhi asupan zat besi
Kelakai sering dikaitkan dengan kandungan zat besi. Karena itu, banyak orang mengonsumsi sayur ini untuk membantu memenuhi kebutuhan mineral yang penting bagi pembentukan hemoglobin.
2. Mendukung kesehatan pencernaan
Serat pada kelakai membantu menjaga gerak usus tetap teratur. Jika Anda mengolahnya tanpa terlalu banyak minyak, sayur ini cocok untuk menu harian yang ringan.
3. Menyumbang antioksidan alami
Kelakai mengandung senyawa fenolik dan vitamin C. Keduanya membantu tubuh melawan stres oksidatif dari radikal bebas.
4. Menjadi pilihan sayur rendah kalori
Kalori kelakai relatif rendah. Karena itu, sayur ini cocok untuk Anda yang ingin menambah variasi menu bergizi tanpa beban kalori berlebihan.
5. Mendukung asupan mineral harian
Kalsium, fosfor, dan mineral lain pada sayur kelakai mendukung fungsi tubuh secara umum, termasuk kesehatan tulang dan metabolisme.
Meski begitu, Anda tetap perlu mengonsumsinya sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Setelah manfaatnya jelas, sekarang mari lihat aneka olahannya yang paling populer.
Aneka Olahan Sayur Kelakai
Kelakai sangat fleksibel di dapur. Anda bisa mengolahnya dengan cara sederhana maupun tradisional.
- Tumis kelakai: paling populer, biasanya memakai bawang merah, bawang putih, cabai, dan terasi.
- Kelakai santan: menghasilkan rasa gurih dan tekstur lembut.
- Sayur bening kelakai: cocok bagi Anda yang ingin rasa lebih ringan.
- Kelakai campur ikan asin atau ebi: memberi rasa umami yang kuat.
- Pecel atau urap pakis bang: alternatif khas dengan bumbu kelapa.
Agar hasilnya enak, pilih pucuk muda dan jangan memasaknya terlalu lama. Langkah ini menjaga tekstur tetap renyah dan warna tetap segar.
Baca juga: Tanaman Alur: Sayur Unik dengan Rasa Gurih Eksotis
Fakta Unik Kelakai
Kelakai bukan sayur biasa. Ada beberapa fakta unik yang membuatnya menonjol.
- Kelakai termasuk tumbuhan paku yang bisa dimakan.
- Tanaman ini tumbuh baik di lahan rawa dan gambut, habitat yang tidak cocok bagi banyak sayuran lain.
- Di Kalimantan, kelakai sering hadir dalam menu rumah tangga dan pasar tradisional.
- Warna pucuk muda bisa berubah dari hijau ke merah tergantung varietas dan kondisi lingkungan.
- Banyak orang mengenalnya sebagai pangan lokal, padahal potensinya juga besar untuk usaha kuliner sehat.
Sesudah mengenal keunikannya, Anda mungkin mulai bertanya: apakah kelakai bisa ditanam sendiri? Jawabannya, bisa.
Syarat Tumbuh dan Propagasi Kelakai
Kelakai menyukai lingkungan tropis yang lembap. Tanaman ini tumbuh optimal pada kondisi berikut:
- Suhu: hangat, khas dataran rendah tropis
- Cahaya: teduh terang atau sinar matahari parsial
- Media: tanah lembap, kaya bahan organik
- Air: cukup dan stabil, tidak kering berkepanjangan
- pH tanah: cenderung asam hingga netral
Untuk cara menanam kelakai, Anda bisa memakai dua metode utama:
- Perbanyakan anakan atau rumpun
Cara ini paling mudah. Ambil bagian tanaman yang sudah memiliki akar, lalu pindahkan ke media lembap. - Perbanyakan spora
Metode ini bisa dilakukan, tetapi lebih lambat dan kurang praktis untuk pemula.
Agar lebih mudah dipahami, berikut panduan singkat menanamnya.

Tabel Panduan Singkat Menanam Kelakai
| Tahap | Langkah | Catatan penting |
|---|---|---|
| Persiapan bibit | Pilih anakan sehat atau rumpun muda | Gunakan bibit dari tanaman yang subur |
| Siapkan media | Campur tanah, kompos, dan bahan organik | Jaga media tetap lembap |
| Penanaman | Tanam bibit pada area teduh terang | Hindari lokasi yang terlalu kering |
| Penyiraman | Siram rutin secukupnya | Jangan biarkan media mengering |
| Pemeliharaan | Bersihkan gulma dan tambah kompos | Pangkas bagian tua agar tunas baru muncul |
| Panen | Petik pucuk muda | Panen rutin mendorong pertumbuhan tunas |
Sekarang, setelah seluruh aspek penting dibahas, mari simpulkan poin utamanya.
Kesimpulan
Kelakai, kalakai, atau pakis bang adalah sayur khas Kalimantan yang berasal dari tanaman paku Stenochlaena palustris. Sayur ini unik karena tumbuh di lahan lembap, memiliki rasa segar yang khas, dan menyimpan potensi gizi yang baik. Kandungan mineral, serat, serta antioksidannya membuat kelakai layak masuk dalam pola makan harian.
Selain itu, kelakai juga mudah diolah dan berpeluang dibudidayakan di lingkungan yang sesuai. Jadi, jika Anda ingin mencoba pangan lokal yang bergizi, berbeda, dan relevan untuk tren makanan sehat, kelakai patut Anda pertimbangkan.
FAQ
Apakah kelakai sama dengan pakis?
Tidak selalu. Kelakai adalah salah satu jenis tumbuhan paku yang dapat dimakan, tetapi tidak semua pakis aman atau lazim dikonsumsi.
Kelakai rasanya seperti apa?
Rasanya segar, ringan, dan sedikit mirip pucuk pakis muda. Teksturnya renyah lembut jika Anda memasaknya sebentar.
Apa manfaat kelakai untuk kesehatan?
Kelakai membantu memenuhi asupan zat besi, serat, dan antioksidan. Sayur ini juga cocok sebagai menu rendah kalori.
Apakah kelakai bisa ditanam di rumah?
Bisa, terutama jika Anda memiliki area lembap, teduh terang, dan media tanam kaya bahan organik.
Kelakai merah dan hijau, apa bedanya?
Perbedaan utamanya terletak pada warna pucuk muda. Kelakai merah memiliki semburat kemerahan, sedangkan kelakai hijau berwarna hijau segar.
Bagian mana dari tanaman kelakai yang dimakan?
Bagian yang paling sering dimakan adalah pucuk dan daun mudanya karena lebih empuk dan enak.
Apakah kelakai aman dikonsumsi setiap hari?
Umumnya aman jika Anda mengonsumsinya dalam jumlah wajar dan mengolahnya dengan benar sebagai bagian dari menu seimbang.
Semoga bermanfaat, sehat selalu!
Salam tetanam!







