Pule Pandak: Herbal Kuat Antihipertensi yang Terancam Punah

Pule pandak mungkin terdengar asing bagi banyak orang, tetapi pengaruhnya dalam dunia pengobatan tradisional justru sangat besar. Tanaman ini telah digunakan ratusan tahun untuk membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan, terutama terkait tekanan darah dan sistem saraf.
Secara sederhana, pule pandak (Rauvolfia serpentina) adalah tanaman obat dari keluarga Apocynaceae yang kaya alkaloid. Senyawa aktifnya bekerja pada sistem saraf dan kardiovaskular. Karena potensi efeknya yang kuat, tanaman ini banyak diteliti, tetapi ironisnya populasinya di alam justru semakin menurun.
Sebelum masuk ke detail teknis, penting untuk memahami tiga hal utama tentang pule pandak:
- Tanaman ini berkhasiat, tetapi bukan herbal “biasa” – efeknya kuat, perlu kehati-hatian.
- Sebagian besar bagian tanaman bermanfaat, terutama akar.
- Statusnya di alam mengkhawatirkan, sehingga pembudidayaan menjadi sangat penting.
Dari gambaran besar ini, kita bisa mulai menyelami lebih dalam apa itu pule pandak, bagaimana ciri-cirinya, dan mengapa tanaman ini layak mendapat perhatian lebih serius.
Daftar isi:
Mengenal Tanaman Pule Pandak (Rauvolfia serpentina)
Agar pemahaman semakin jelas, mari kita bedah pule pandak dari sisi ilmiah: taksonomi, morfologi, dan sebarannya di dunia.
a. Taksonomi Pule Pandak
Berikut klasifikasi ilmiah pule pandak:
- Kingdom: Plantae
- Divisio: Magnoliophyta
- Classis: Magnoliopsida
- Ordo: Gentianales
- Familia: Apocynaceae
- Genus: Rauvolfia
- Spesies: Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz
Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan beberapa nama lokal, seperti pule pandak, akar ular, atau akar penawar ular. Di India, tanaman ini populer sebagai “Sarpa Gandha” yang berarti “bau ular”.
Setelah memahami posisinya dalam dunia botani, kita beralih ke ciri fisiknya yang cukup khas.
b. Morfologi: Ciri Fisik yang Mudah Dikenali
Secara morfologi, pule pandak memiliki ciri sebagai berikut:
- Habit (bentuk tumbuhan):
Semak kecil hingga perdu, tinggi sekitar 30–60 cm, kadang dapat mencapai ±1 m. - Batang:
- Berwarna hijau hingga cokelat kehijauan.
- Berkayu tipis, bercabang.
- Getah putih susu khas keluarga Apocynaceae.
- Daun:
- Tersusun berkarang (whorl) 3–4 daun pada satu buku batang.
- Bentuk helaian: lonjong sampai elips, ujung runcing.
- Warna hijau tua di bagian atas, lebih pucat di bawah.
- Bunga:
- Kecil, berbentuk bintang, tersusun dalam malai.
- Warna putih sampai putih kekuningan dengan semburat merah muda.
- Muncul di ujung ranting.
- Buah:
- Kecil, bulat telur hingga bulat, berdiameter ±,5–1 cm.
- Awalnya hijau, lalu menjadi merah, dan akhirnya ungu kehitaman saat matang.
- Akar:
- Akar tunggang tebal, bercabang, berwarna kekuningan hingga cokelat.
- Bagian ini paling sering dimanfaatkan sebagai bahan obat.
Dengan mengenali ciri-ciri di atas, identifikasi pule pandak di lapangan menjadi jauh lebih mudah, terutama bagi peneliti, petani, atau praktisi herbal.

c. Negara Asal dan Sebaran Geografis
Setelah mengetahui bentuknya, langkah berikutnya adalah memahami dari mana tanaman ini berasal dan ke mana saja ia menyebar.
- Asal utama:
Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Myanmar. - Sebaran geografis:
- India (sangat terkenal sebagai Sarpa Gandha).
- Nepal, Bhutan, Bangladesh, Sri Lanka.
- Thailand, Indonesia, Malaysia, dan negara lain di Asia Tenggara.
Di Indonesia, pule pandak dapat ditemukan di beberapa wilayah dengan hutan sekunder, tepi hutan, atau lahan-lahan dengan kelembapan cukup. Namun, seiring waktu, populasinya semakin sulit ditemukan secara liar.
Setelah mengenal asal dan persebarannya, kini kita masuk ke aspek yang lebih praktis: bagaimana cara tanaman ini tumbuh dan diperbanyak.
Baca juga: Tanaman Widuri: Dari Obat Herbal sampai Pengusir Ular?
Syarat Tumbuh dan Propagasi (Perbanyakan)
Untuk menjaga ketersediaan pule pandak, memahami syarat tumbuh dan teknik perbanyakan menjadi sangat penting. Tanaman ini tidak terlalu rumit, tetapi membutuhkan kondisi tertentu agar dapat berkembang optimal.
Syarat tumbuh utama pule pandak:
- Iklim:
- Tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis.
- Suhu ideal sekitar 20–30°C.
- Ketinggian tempat:
- Umumnya tumbuh dari dataran rendah hingga sekitar 1.000 mdpl.
- Tanah:
- Subur, gembur, kaya bahan organik.
- Drainase baik, tidak tergenang.
- pH tanah cenderung netral hingga sedikit asam (±5,5–7).
- Cahaya:
- Menyukai tempat dengan sinar matahari tidak terlalu terik.
- Setengah teduh (partial shade) sering menjadi kondisi ideal.
Setelah memahami syarat dasar tersebut, kita masuk ke metode perbanyakannya.
Propagasi (perbanyakan) pule pandak umumnya dilakukan melalui:
- Biji diambil dari buah yang sudah matang (ungu kehitaman).
- Dikeringkan sebentar, lalu disemai pada media lembap dan gembur.
- Perkecambahan membutuhkan waktu beberapa minggu.
- Stek akar atau stek batang
- Bagian akar atau batang yang sehat dipotong, lalu ditanam pada media lembap.
- Diperlukan kelembapan tinggi dan naungan sedang untuk keberhasilan stek.
- Perbanyakan secara kultur jaringan
- Metode ini banyak digunakan penelitian atau skala industri,
- Tujuannya untuk menghasilkan bibit dalam jumlah besar secara cepat.
Dengan teknik budidaya yang tepat, pule pandak berpotensi dibudidayakan secara berkelanjutan, sehingga tidak selalu diambil dari alam liar. Di titik inilah, pembahasan mengenai status kelangkaannya menjadi sangat relevan.

Pule Pandak: Tanaman Obat yang Terancam Punah
Meski kaya manfaat, pule pandak justru menghadapi ancaman serius. Beberapa sumber melaporkan bahwa pule pandak termasuk tanaman yang terancam punah di alam, terutama karena:
- Eksploitasi berlebihan di alam liar
Akar tanaman sering digali tanpa replanting. Satu tanaman mati, tidak ada pengganti. - Kerusakan habitat
Perubahan fungsi lahan, pembukaan hutan, dan urbanisasi mengurangi habitat alami. - Kurangnya budidaya terencana
Banyak yang hanya mengambil dari alam, tidak banyak yang menanam secara sistematis. - Permintaan industri herbal dan farmasi
Beberapa alkaloid dari pule pandak bernilai tinggi secara farmakologis.
Jika kondisi ini dibiarkan, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal pule pandak dari buku atau jurnal, bukan dari kebun atau hutan. Karena itu, budidaya, konservasi ex-situ (kebun koleksi) dan in-situ (di habitat asli) sangat penting dilakukan.
Setelah menyadari statusnya yang mengkhawatirkan, pertanyaannya: apa sebenarnya yang membuat tanaman ini begitu dicari? Jawabannya terletak pada kandungan senyawa kimia di dalamnya.
Baca Juga: Khasiat Tersembunyi Rumput Mutiara: Gulma Jadi Obat Mujarab!
Kandungan Senyawa Kimia Pule Pandak (Per 100 gram)
Pule pandak dikenal sangat kaya akan alkaloid indol. Senyawa inilah yang bertanggung jawab atas banyak efek farmakologinya.
Berikut adalah gambaran umum kandungan utama pule pandak (terutama pada akar) per 100 gram bahan kering (nilai dapat bervariasi tergantung sumber, lokasi tumbuh, dan metode analisis):
| Kelompok Senyawa | Nama Senyawa Utama | Perkiraan Kandungan / 100 g* |
|---|---|---|
| Alkaloid indol | Reserpine | ± ,05 – ,15 g |
| Alkaloid indol | Ajmaline | ± ,02 – ,10 g |
| Alkaloid indol | Serpentine | ± ,02 – ,08 g |
| Alkaloid indol | Deserpidine | ± ,01 – ,05 g |
| Alkaloid indol | Ajmalicine (Raubasine) | ± ,02 – ,10 g |
| Alkaloid lain | Yohimbine, rescinnamine | Jejak – rendah |
| Komponen lain | Tanin, saponin, gula | Bervariasi |
*Angka di atas merupakan kisaran dari berbagai laporan penelitian; bukan nilai tunggal baku. Variasi sangat mungkin terjadi.
Beberapa referensi ilmiah yang membahas kandungan Rauvolfia serpentina antara lain:
- pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
- USDA (basis data fitokimia tanaman obat)
Setelah melihat kandungan kimianya, kita dapat memahami mengapa efek tanaman ini cukup “keras” dan perlu penggunaan yang terukur. Sekarang, mari kita lihat bagaimana tanaman ini dimanfaatkan dari masa ke masa.

Pemanfaatan Pule Pandak
Untuk memahami peran pule pandak dalam kehidupan manusia, kita perlu melihat dari sisi sejarah, manfaat kesehatan, dan pemanfaatan lainnya.
1. Sejarah Pemanfaatan
Sejak lama, Rauvolfia serpentina telah digunakan dalam:
- Ayurveda (India)
Dikenal sebagai Sarpa Gandha, dimanfaatkan untuk: - Menurunkan tekanan darah.
- Menenangkan sistem saraf.
- Membantu mengatasi insomnia dan gangguan kecemasan.
- Pengobatan tradisional Asia
Di berbagai negara Asia, akar pule pandak: - Dipakai sebagai penawar gigitan ular dan serangga (secara tradisional).
- Dianggap membantu mengurangi demam dan beberapa gangguan pencernaan.
Dari perspektif sejarah, jelas bahwa tanaman ini bukan “pendatang baru” dalam dunia herbal. Namun, seiring berkembangnya ilmu farmasi, perannya semakin spesifik dan dikaji lebih mendalam.
2. Manfaat Kesehatan
Berbagai penelitian dan penggunaan tradisional menyebutkan beberapa potensi manfaat pule pandak, terutama bila digunakan secara terkontrol:
- Mengurangi tekanan darah tinggi (antihipertensi)
- Reserpine adalah salah satu alkaloid utama yang bekerja menurunkan tekanan darah.
- Senyawa ini memengaruhi sistem saraf simpatis dan membantu melebarkan pembuluh darah.
- Efek sedatif dan penenang
- Pule pandak digunakan dalam dosis tertentu untuk menenangkan sistem saraf.
- Secara tradisional dimanfaatkan pada gangguan tidur dan kecemasan ringan.
- Efek pada sistem kardiovaskular
- Beberapa alkaloid (seperti ajmaline) berpengaruh pada irama jantung.
- Di dunia farmasi, turunan senyawa ini banyak dipelajari sebagai antiaritmia.
- Pemanfaatan tradisional lain
- Sebagian tradisi menggunakan pule pandak untuk sakit kepala, gangguan pencernaan, dan gigitan ular.
- Penggunaan ini umumnya bersifat tradisional dan belum semua didukung uji klinis kuat.
Namun, penting ditekankan:
Pule pandak bukan tanaman untuk “coba-coba” sendiri. Efeknya kuat, dan penggunaan tidak boleh sembarangan tanpa pendampingan tenaga kesehatan atau herbalis berpengalaman.
3. Pemanfaatan Selain Kesehatan
Di luar penggunaan medis:
- Pule pandak menjadi tanaman penelitian penting dalam:
- Fitokimia (studi senyawa kimia tanaman).
- Farmakologi (mekanisme kerja obat).
- Bioteknologi (produksi alkaloid melalui kultur jaringan).
- Tanaman ini juga bernilai dari sisi konservasi keanekaragaman hayati, karena:
- Mewakili kekayaan flora Asia yang berpotensi besar.
- Menjadi contoh nyata bagaimana tanaman obat dapat terancam punah karena over-eksploitasi.
Setelah melihat banyak manfaat dan risikonya, kita bisa bergeser sebentar ke hal yang lebih ringan: beberapa fakta unik tentang pule pandak.
Baca juga: 15 Tanaman Obat dan Manfaatnya
Fakta Unik Pule Pandak
Beberapa hal menarik tentang pule pandak yang sering luput dari perhatian:
- Nama “serpentina” dan asosiasi ular
Nama ilmiah serpentina dan nama Ayurveda “Sarpa Gandha” sama-sama berkaitan dengan ular. Diduga karena:
- Akarnya berliku seperti tubuh ular.
- Secara tradisional digunakan untuk penawar atau “penenang” setelah gigitan ular.
- Menjadi sumber obat modern
Reserpine yang berasal dari pule pandak pernah menjadi salah satu obat penting untuk hipertensi secara global sebelum munculnya generasi obat yang lebih baru. - Efeknya tidak ringan
Karena pengaruhnya pada sistem saraf dan kardiovaskular, tanaman ini sering diperlakukan lebih dekat dengan “obat” daripada sekadar “jamu”. - Ikon tanaman obat yang terancam
Pule pandak sering dijadikan contoh klasik dalam diskusi konservasi tanaman obat, karena kisahnya memperlihatkan bagaimana tanaman yang awalnya melimpah bisa menjadi langka.
Dengan berbagai fakta unik ini, pule pandak semakin menunjukkan bahwa ia bukan sekadar tanaman semak, melainkan bagian penting dari sejarah pengobatan tradisional dan modern.
Kesimpulan
Pule pandak (Rauvolfia serpentina) adalah tanaman obat yang:
- Kaya alkaloid indol dengan efek kuat pada sistem saraf dan kardiovaskular.
- Lama digunakan dalam Ayurveda dan pengobatan tradisional Asia untuk hipertensi, gangguan tidur, dan masalah saraf.
- Memiliki morfofogi khas dengan akar kuat, daun berkarang, dan buah kecil berwarna ungu kehitaman saat matang.
- Memerlukan budidaya serius karena populasinya di alam terancam akibat eksploitasi dan kerusakan habitat.
Tanaman ini menawarkan potensi besar, tetapi juga membawa pesan peringatan: sumber daya hayati tidak akan bertahan jika hanya dieksploitasi tanpa dibudidayakan dan dilestarikan. Jika pule pandak ingin tetap hadir dalam dunia herbal masa depan, upaya konservasi dan pemanfaatan bijak harus berjalan bersama.
FAQ tentang Pule Pandak
Untuk mengakhiri pembahasan, berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait pule pandak, dengan jawaban singkat dan padat.
1. Apa itu pule pandak?
Pule pandak adalah tanaman obat dari spesies Rauvolfia serpentina yang termasuk famili Apocynaceae. Tanaman ini banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Asia, terutama pada bagian akar yang kaya alkaloid. Pule pandak dikenal berpengaruh kuat pada sistem saraf dan kardiovaskular.
2. Apa manfaat utama pule pandak bagi kesehatan?
Manfaat utama pule pandak yang paling sering disebut antara lain:
- Membantu menurunkan tekanan darah tinggi (antihipertensi)
- Memberikan efek sedatif atau penenang pada sistem saraf
- Membantu meredakan kecemasan dan gangguan tidur dalam praktik tradisional
Meski begitu, manfaat ini baru aman bila penggunaan dilakukan dengan dosis yang tepat dan di bawah pengawasan profesional kesehatan.
3. Apakah pule pandak aman diminum sebagai jamu rumahan?
Tidak. Pule pandak tidak cocok dijadikan jamu rumahan untuk konsumsi bebas. Alasannya:
- Kandungan alkaloidnya (seperti reserpine, ajmaline, serpentine) memiliki efek kuat.
- Penggunaan sembarangan dapat menimbulkan efek samping seperti tekanan darah terlalu rendah, gangguan mood, atau keluhan pencernaan.
Karena itu, pule pandak sebaiknya hanya digunakan dalam bentuk sediaan terstandar atau resep yang diawasi tenaga medis/herbalis berpengalaman.
4. Bagian tanaman mana yang paling sering digunakan?
Bagian yang paling sering digunakan adalah akar karena:
- Konsentrasi alkaloid paling tinggi berada pada akar.
- Hampir semua ramuan tradisional dan ekstrak farmasi berbahan pule pandak memakai akar yang telah dikeringkan.
Daun dan bagian lain kadang disebut dalam pengobatan tradisional, tetapi tidak sepopuler akar dan relatif lebih jarang diteliti.
Baca juga: Daun Seribu: Herbal Serbaguna yang Wajib Dibudidayakan
5. Mengapa pule pandak terancam punah?
Pule pandak terancam punah terutama karena beberapa faktor utama:
- Penggalian akar berlebihan dari alam tanpa penanaman kembali.
- Kerusakan habitat akibat pembukaan lahan dan perubahan fungsi hutan.
- Minimnya budidaya terencana, sehingga permintaan pasar tetap disuplai dari tanaman liar.
Kombinasi faktor ini membuat populasi pule pandak di alam menurun drastis di berbagai wilayah.
6. Di mana pule pandak banyak ditemukan?
Secara geografis, pule pandak berasal dari Asia Selatan dan menyebar ke Asia Tenggara. Beberapa negara yang menjadi habitatnya:
- India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka
- Myanmar, Thailand
- Indonesia dan Malaysia
Di Indonesia, pule pandak dapat ditemukan di hutan sekunder, tepian hutan, dan lahan dengan kelembapan cukup, terutama di daerah beriklim tropis lembap. Namun, kini keberadaannya di alam liar semakin jarang terlihat.
7. Apakah pule pandak bisa dibudidayakan di rumah?
Secara teknis bisa, tetapi ada beberapa syarat yang perlu dipahami:
- Membutuhkan tanah gembur, kaya bahan organik, drainase baik.
- Lebih suka lokasi setengah teduh (tidak terus-menerus kena matahari terik).
- Memerlukan kelembapan cukup dan tidak tahan genangan.
Untuk sekadar koleksi konservasi, penanaman di pekarangan cukup memungkinkan. Namun, budidaya untuk tujuan obat sebaiknya mengikuti standar budidaya tanaman obat (GAP) agar kualitas kandungan senyawa tetap terjaga.
8. Apa saja efek samping yang mungkin muncul dari pule pandak?
Efek samping berpotensi muncul jika pule pandak digunakan tanpa pengawasan atau dalam dosis berlebihan. Beberapa efek yang mungkin terjadi antara lain:
- Tekanan darah turun terlalu rendah (hipotensi)
- Denyut jantung melambat
- Gangguan pencernaan (mual, kram perut)
- Perubahan mood, rasa lesu, bahkan depresi pada penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi
Oleh karena itu, penggunaan pule pandak harus dianggap seperti obat kuat, bukan sekadar herbal ringan.
9. Apakah pule pandak bisa digunakan untuk penawar racun atau gigitan ular?
Dalam tradisi pengobatan lama di beberapa wilayah Asia, pule pandak memang digunakan sebagai ramuan pendukung setelah gigitan ular. Namun, secara medis modern:
- Pule pandak bukan pengganti antivenom (serum anti-bisa).
- Penanganan utama gigitan ular tetap harus dilakukan di fasilitas kesehatan.
Pule pandak lebih realistis dilihat sebagai bagian dari sejarah pengobatan tradisional, bukan sebagai solusi tunggal gigitan ular pada standar medis saat ini.
10. Apakah ibu hamil boleh mengonsumsi pule pandak?
Tidak. Ibu hamil sangat tidak disarankan mengonsumsi pule pandak, baik dalam bentuk jamu, rebusan akar, maupun ekstrak, kecuali ada indikasi medis yang sangat jelas dan diawasi ketat oleh dokter (yang secara praktik hampir tidak terjadi).
Alasan utamanya:
- Alkaloid kuat di dalam pule pandak dapat memengaruhi sistem saraf dan kardiovaskular ibu, serta berpotensi memengaruhi janin.
Demikian juga, ibu menyusui dan anak-anak sebaiknya tidak diberikan pule pandak tanpa alasan dan pengawasan medis yang sangat kuat.
Salam tetanam!
jak@tetanam







