Manjakani: Bukan Buahnya, Ternyata Bintilnya!

Manjakani adalah istilah populer untuk menyebut bintil atau gall yang tumbuh pada tanaman Quercus infectoria, sejenis pohon ek kecil. Gall ini terbentuk akibat respons tanaman terhadap serangan serangga tertentu, lalu menggumpal menjadi “buah” manjakani yang kaya senyawa aktif.
Dalam pengobatan tradisional, manjakani sudah lama dimanfaatkan, terutama di Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara. Banyak orang mengenalnya karena kaitannya dengan kesehatan reproduksi wanita, terutama dalam bentuk jamu, suplemen, dan produk perawatan area kewanitaan.
Sebelum Anda memutuskan memakai manjakani atau bahkan menanam tanamannya, Anda perlu memahami dulu apa sebenarnya manjakani, kandungannya, manfaatnya, serta kemungkinan budidayanya di Indonesia. Dari sini, kita akan mulai dengan mengenal tanamannya terlebih dahulu.
Daftar isi:
- Mengenal Tanaman Manjakani (Quercus infectoria)
- Kandungan Senyawa Kimia Manjakani
- Manfaat Kesehatan Manjakani
- Fakta Unik Manjakani
- Syarat Tumbuh dan Propagasi (Perbanyakan)
- Bisakah Tanaman Manjakani Tumbuh di Indonesia?
- Tabel Panduan Singkat Menanam Quercus infectoria
- Kesimpulan
- FAQ Manjakani (Quercus infectoria)
Mengenal Tanaman Manjakani (Quercus infectoria)
Agar Anda tidak hanya terpaku pada produk jadi, penting untuk mengenal sumber aslinya: tanaman Quercus infectoria. Dengan memahami tanaman, Anda akan lebih mudah menilai kualitas produk berbasis manjakani di pasaran.
a. Taksonomi Manjakani
Secara ilmiah, posisi manjakani dalam dunia tumbuhan dapat dilihat dari klasifikasi berikut:
- Kerajaan : Plantae
- Divisi : Magnoliophyta
- Kelas : Magnoliopsida
- Ordo : Fagales
- Famili : Fagaceae
- Genus : Quercus
- Spesies : Quercus infectoria Oliv.
Tanaman ini masih satu keluarga dengan berbagai spesies pohon ek lain yang banyak tumbuh di kawasan beriklim sedang.

b. Morfologi Tanaman Quercus infectoria
Secara bentuk fisik, Quercus infectoria biasanya berupa pohon kecil atau perdu besar.
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Tinggi tanaman: sekitar 1,5–5 meter, relatif lebih pendek dibanding sebagian besar pohon ek lain.
- Batang: berkayu, bercabang banyak, dengan kulit batang cokelat keabu-abuan.
- Daun: bentuk oval sampai lanset, tepi sedikit bergerigi, permukaan hijau tua di bagian atas, lebih pucat di bagian bawah.
- Bunga: berumah satu (monoecious), bunga jantan dan betina terpisah pada tanaman yang sama, bunga berukuran kecil.
- Buah/gall manjakani: bukan buah sejati, melainkan bintil (gall) yang keras, bulat, berdiameter sekitar 1–3 cm, biasanya berwarna hijau muda saat muda dan berubah kecokelatan saat tua.
Gall manjakani terbentuk ketika serangga tertentu (biasanya dari ordo Hymenoptera: Cynipidae) menyuntikkan telur atau merangsang jaringan tanaman, sehingga jaringan tersebut tumbuh abnormal menjadi bintil yang kaya tanin.
c. Negara Asal dan Sebaran Geografis
Quercus infectoria berasal dari kawasan Mediterania Timur dan Asia Barat. Sebarannya meliputi:
- Turki
- Yunani
- Iran
- Irak
- Suriah
- Pakistan
- Beberapa wilayah India
- Beberapa bagian Asia Kecil lainnya
Tanaman ini umumnya tumbuh di daerah beriklim subtropis dengan musim panas kering dan musim dingin yang relatif sejuk hingga dingin. Setelah memahami sebarannya, Anda bisa mulai melihat tantangan ketika tanaman ini ingin dibudidayakan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Baca juga: Bunga Darwin’s Slipper: Keindahan Unik yang Bikin Penasaran
Kandungan Senyawa Kimia Manjakani
Popularitas manjakani dalam pengobatan tradisional tidak terlepas dari kekayaan kandungan senyawa kimianya. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah gall/bintil. Data kandungan dapat sedikit berbeda antar sumber dan lokasi tumbuh, namun secara umum manjakani dikenal sangat kaya tanin.
Berikut gambaran kandungan utama per 100 gram serbuk kering manjakani (perkiraan):
| Senyawa / Komponen | Perkiraan Kandungan / 100 g* |
|---|---|
| Tanin total | 50–70 g |
| Gallic acid | 2–4 g |
| Ellagic acid | 1–3 g |
| Flavonoid total | 1–2 g |
| Tannin terhidrolisis lain | 5–10 g |
| Serat kasar | 5–10 g |
| Kalsium | 300–500 mg |
| Magnesium | 100–200 mg |
| Zat besi | 20–50 mg |
| Protein | 3–5 g |
| Air (kadar sisa) | 5–10 g |
*Angka di atas adalah rentang dari berbagai publikasi ilmiah dan dapat bervariasi tergantung asal bahan dan metode analisis. Untuk detail ilmiah, Anda dapat menelusuri misalnya:
Kandungan tanin yang sangat tinggi inilah yang kemudian berperan kuat dalam banyak manfaat tradisional manjakani, terutama sifat astringen (mengencangkan jaringan).

Manfaat Kesehatan Manjakani
Setelah memahami kandungannya, kini saatnya Anda melihat bagaimana manjakani digunakan untuk kesehatan. Manfaat ini banyak bersumber dari tradisi pengobatan dan sebagian sudah mulai diteliti secara ilmiah, meski bukti klinis pada manusia masih perlu diperkuat.
Beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan manjakani antara lain:
- Mendukung Kesehatan Reproduksi Wanita
Manjakani populer karena sifat astringennya. Dalam tradisi, manjakani digunakan untuk membantu mengencangkan jaringan di area kewanitaan, terutama setelah melahirkan. Selain itu, manjakani kadang dipakai sebagai bahan pencuci atau ramuan herbal untuk menjaga kebersihan area intim.
Namun, penggunaan manjakani pada area sensitif perlu Anda lakukan dengan bijak dan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menghindari iritasi atau gangguan flora normal vagina. - Potensi Antimikroba
Kandungan tanin, gallic acid, dan ellagic acid dikaitkan dengan efek antimikroba terhadap beberapa bakteri dan jamur dalam penelitian in vitro. Ini menjadi salah satu alasan manjakani kerap digunakan sebagai bahan pembersih tradisional. Meski demikian, penerapannya sebagai terapi infeksi tetap harus mengikuti standar medis. - Aktivitas Antioksidan
Senyawa fenolik dan flavonoid di dalam manjakani memiliki aktivitas antioksidan yang dapat membantu menangkal radikal bebas. Efek ini bermanfaat bagi kesehatan umum, meskipun belum bisa menggantikan pola makan sehat dan gaya hidup seimbang. - Mendukung Kesehatan Mulut dan Gigi
Di beberapa budaya, manjakani dimanfaatkan dalam obat kumur tradisional untuk membantu mengurangi bau mulut dan mendukung kesehatan gusi berkat efek astringen dan antimikrobanya. - Membantu Mengurangi Diare (Pemakaian Tradisional)
Sifat astringen dari tanin dapat membantu mengurangi sekresi berlebih pada usus. Karena itu, manjakani kadang digunakan dalam ramuan tradisional untuk diare ringan. Namun, penggunaannya harus hati-hati karena tanin tinggi bisa mengiritasi lambung jika berlebihan.
Di titik ini, Anda perlu menyeimbangkan antara tradisi dan ilmu pengetahuan. Manjakani menjanjikan, tetapi jangan menggantikan obat dokter untuk kondisi medis serius.
Baca juga: Genje: Tanaman Tahan Banting yang Bikin Taman Hidup
Fakta Unik Manjakani
Untuk membuat Anda lebih tertarik, mari beralih sejenak ke beberapa fakta unik seputar manjakani:
- “Buah” yang Bukan Buah
Gall manjakani bukan buah biasa, melainkan jaringan tanaman yang “dipaksa” tumbuh oleh serangga penggall. Ini contoh menarik hubungan kompleks antara tanaman dan serangga. - Dipakai Sejak Zaman Kuno
Manjakani telah digunakan dalam pengobatan Yunani, Persia, hingga pengobatan Ayurveda dan Unani untuk berbagai keluhan, terutama yang berkaitan dengan pendarahan dan kelembapan berlebih. - Tanin Super Tinggi
Manjakani termasuk salah satu sumber tanin alami dengan kadar sangat tinggi, sehingga dulu juga dimanfaatkan dalam industri penyamakan kulit dan pewarnaan. - Bentuk dan Ukuran Bervariasi
Bentuk gall bisa bervariasi tergantung jenis serangga dan lokasi tumbuh: ada yang hampir bulat sempurna, ada yang sedikit berbenjol-benjol.
Setelah mengetahui sisi uniknya, Anda bisa mulai menilai bahwa manjakani bukan sekadar “bahan jamu”, melainkan objek biologi yang menarik.

Syarat Tumbuh dan Propagasi (Perbanyakan)
Kini, mari beralih ke aspek budidaya. Jika Anda tertarik menanam Quercus infectoria, Anda perlu memahami syarat tumbuhnya terlebih dahulu.
1. Iklim dan Suhu
- Cocok di iklim subtropis hingga sedang.
- Suhu ideal: sekitar 10–25°C.
- Membutuhkan musim dingin yang jelas untuk mendukung siklus hidupnya.
2. Ketinggian dan Cahaya
- Umumnya tumbuh di dataran menengah hingga tinggi (±500–150 mdpl) di daerah asalnya.
- Membutuhkan sinar matahari penuh atau minimal 6 jam cahaya langsung per hari.
3. Tanah
- Tanah berdrainase baik, tidak tergenang.
- pH tanah cenderung netral hingga sedikit basa (pH 6,5–7,5).
- Kaya bahan organik akan mendukung pertumbuhan lebih baik.
4. Kebutuhan Air
- Membutuhkan kelembapan cukup, tetapi tidak menyukai genangan.
- Di daerah asal, tanaman terbiasa dengan musim kering dan hujan yang bergantian.
Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan Quercus infectoria dapat dilakukan melalui:
- Biji (Seed)
- Cara paling umum.
- Biji perlu mengalami proses stratifikasi (perlakuan dingin) sebelum berkecambah, meniru musim dingin di habitat aslinya.
- Setelah stratifikasi, biji bisa disemai di media gembur dan lembap.
- Stek atau Cangkok
- Relatif lebih sulit dan tingkat keberhasilannya lebih rendah dibanding biji.
- Biasanya digunakan untuk mempertahankan sifat tertentu dari tanaman induk.
- Okulasi / Grafting
- Bisa dilakukan pada rootstock Quercus lain, namun teknik ini memerlukan keahlian khusus.
Setelah memahami teknik perbanyakan, pertanyaannya berikutnya adalah: apakah tanaman ini mungkin ditanam dan membentuk gall manjakani di Indonesia?
Bisakah Tanaman Manjakani Tumbuh di Indonesia?
Ini salah satu pertanyaan yang paling sering muncul, terutama di kalangan pencinta tanaman herbal. Jawabannya: secara teori, Quercus infectoria mungkin ditumbuhkan di beberapa wilayah Indonesia, tetapi dengan tantangan besar.
1. Tantangan Iklim
Indonesia beriklim tropis dengan dua musim (hujan dan kemarau) dan tanpa musim dingin yang jelas. Sementara Quercus infectoria terbiasa dengan iklim subtropis/mediterania yang memiliki:
- Musim dingin cukup dingin
- Musim panas relatif kering
- Perbedaan suhu musiman cukup jelas
Tanaman mungkin bisa beradaptasi sebagian jika ditanam di dataran tinggi yang sejuk (misalnya >100 mdpl), tetapi pertumbuhan dan pembentukan gall belum tentu optimal.
2. Pembentukan Gall/Bintil Manjakani
Gall manjakani tidak otomatis muncul hanya karena tanamannya hidup. Pembentukan gall bergantung pada:
- Kehadiran serangga penggall spesifik (biasanya Cynipidae tertentu) yang memang hidup di daerah asal.
- Interaksi khusus antara serangga dan tanaman.
Di Indonesia, serangga penggall spesifik Quercus infectoria kemungkinan besar tidak ada secara alami. Tanpa serangga itu, tanaman bisa tumbuh sebagai pohon ek kecil biasa, tetapi bintil/gall manjakani yang khas mungkin tidak terbentuk atau terbentuk berbeda karena interaksi dengan serangga lokal yang tidak spesifik.
Mengintroduksi serangga asing sendiri berisiko tinggi terhadap ekosistem. Karena itu, belum ada rekomendasi aman untuk “memindahkan” serangga penggall manjakani ke Indonesia.

3. Kesimpulan Sementara
- Menanam Quercus infectoria sebagai koleksi mungkin bisa dicoba di dataran tinggi yang sejuk, dengan perawatan intensif.
- Pembentukan gall manjakani seperti di negara asal sangat sulit terjadi secara alami di Indonesia karena faktor serangga dan iklim.
- Untuk kebutuhan bahan baku, manjakani di Indonesia umumnya masih diimpor dalam bentuk kering atau serbuk.
Dengan memahami hal ini, Anda bisa lebih realistis terhadap klaim budidaya manjakani lokal yang menjanjikan hasil seperti di daerah asal.
Tabel Panduan Singkat Menanam Quercus infectoria
Sebagai rangkuman praktis, berikut panduan singkat yang bisa Anda gunakan jika ingin mencoba menanamnya:
| Tahap | Langkah | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Persiapan | Pilih biji berkualitas, lakukan stratifikasi dingin 4–8 minggu | Simpan biji dalam media lembap (pasir/gambut) di suhu lemari es (±4°C) |
| Penyemaian | Semai biji pada media gembur dan lembap dalam tray/pot kecil | Letakkan di tempat terang, tidak terkena sinar matahari langsung berlebihan |
| Pembesaran | Pindahkan bibit ke polybag/pot lebih besar saat memiliki 3–5 helai daun | Gunakan media campuran tanah, kompos, dan pasir untuk drainase baik |
| Penanaman | Tanam di lahan/dalam pot besar di lokasi terbuka | Pastikan lokasi mendapat sinar matahari cukup dan tidak tergenang air |
| Perawatan | Siram teratur, beri pupuk organik 2–3 bulan sekali | Hindari pemupukan berlebihan; pantau hama dan penyakit |
| Pemantauan | Amati pertumbuhan dan adaptasi terhadap iklim lokal | Di Indonesia, jangan berharap gall terbentuk tanpa serangga penggall spesifik |
Kesimpulan
Manjakani, yang berasal dari gall tanaman Quercus infectoria, adalah bahan herbal yang kaya tanin dan telah lama dimanfaatkan dalam berbagai tradisi pengobatan, terutama untuk mendukung kesehatan reproduksi wanita. Kandungan senyawa kimianya yang tinggi, terutama tanin, memberikan sifat astringen, antimikroba, dan antioksidan.
Tanaman ini berasal dari kawasan subtropis/mediterania dan tumbuh optimal di iklim yang memiliki musim dingin. Secara teoritis, Quercus infectoria bisa dicoba ditanam di dataran tinggi Indonesia, tetapi pembentukan bintil/gall manjakani yang sama seperti di daerah asal sangat kecil kemungkinannya tanpa kehadiran serangga penggall spesifik.
Bagi Anda yang tertarik pada manfaat manjakani, penggunaan produk siap pakai perlu dilakukan secara bijak, kritis terhadap klaim yang berlebihan, dan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama ketika berkaitan dengan area sensitif dan kesehatan reproduksi.
Baca juga: Pule Pandak: Herbal Kuat Antihipertensi yang Terancam Punah
FAQ Manjakani (Quercus infectoria)
1. Apa itu manjakani sebenarnya?
Manjakani adalah bintil (gall) keras yang terbentuk pada pohon Quercus infectoria akibat interaksi dengan serangga penggall. Bintil inilah yang dikeringkan dan digunakan sebagai bahan herbal.
2. Apakah manjakani benar-benar bermanfaat untuk kesehatan reproduksi wanita?
Manjakani memiliki sifat astringen dan antimikroba yang secara tradisional dimanfaatkan untuk mendukung kebersihan dan kekencangan jaringan area kewanitaan. Namun, bukti klinis pada manusia masih terbatas, sehingga penggunaannya sebaiknya tetap hati-hati dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
3. Apakah aman menggunakan manjakani langsung di area kewanitaan?
Penggunaan langsung, terutama dalam bentuk konsentrat tinggi atau cairan pekat, berisiko menimbulkan iritasi dan mengganggu keseimbangan flora normal. Jika Anda ingin menggunakannya, pilih produk yang terstandarisasi, ikuti petunjuk pemakaian, dan konsultasikan dengan dokter atau bidan.
4. Bisakah saya menanam manjakani di Indonesia?
Anda mungkin bisa menanam Quercus infectoria di dataran tinggi dengan iklim lebih sejuk, tetapi pembentukan gall manjakani yang khas sangat sulit terjadi tanpa serangga penggall spesifik. Jadi, tanaman mungkin tumbuh, namun belum tentu menghasilkan bintil manjakani seperti di negara asal.
5. Apakah manjakani punya efek samping?
Dalam dosis tinggi, manjakani berpotensi menyebabkan iritasi saluran cerna dan mukosa karena kandungan tanin yang tinggi. Penggunaan berlebihan di area sensitif juga berisiko menimbulkan iritasi. Karena itu, sebaiknya Anda mengikuti dosis anjuran dan berkonsultasi kepada para ahli.
6. Bagaimana cara konsumsi manjakani yang paling umum?
Cara konsumsi yang paling umum adalah dalam bentuk seduhan serbuk kering (seperti teh herbal) atau kapsul/suplemen yang sudah ditakar dosisnya. Anda sebaiknya mengikuti petunjuk pada kemasan dan tidak mengonsumsi berlebihan karena kandungan taninnya tinggi.
7. Bolehkah ibu hamil atau menyusui menggunakan manjakani?
Data ilmiah mengenai keamanan manjakani untuk ibu hamil dan menyusui masih sangat terbatas. Untuk menghindari risiko terhadap janin atau bayi, penggunaan manjakani pada kelompok ini sebaiknya dihindari, kecuali atas saran dan pengawasan langsung tenaga kesehatan.
8. Apakah manjakani bisa mengobati keputihan?
Manjakani sering dipromosikan untuk membantu mengurangi keputihan berlebih karena efek astringen dan antimikroba. Namun, keputihan bisa disebabkan infeksi jamur, bakteri, atau ketidakseimbangan hormon. Manjakani tidak boleh dianggap sebagai obat tunggal. Jika keputihan berbau, gatal, atau berwarna tidak normal, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat diagnosis dan terapi yang tepat.
9. Apakah manjakani bisa mengencangkan organ intim wanita secara permanen?
Manjakani sering diklaim dapat “mengencangkan” organ intim karena efek astringennya pada jaringan. Efek ini biasanya bersifat sementara dan tidak permanen. Kekencangan otot dasar panggul lebih banyak dipengaruhi oleh latihan fisik (seperti senam Kegel), faktor usia, dan kondisi jaringan, bukan hanya oleh herbal.
10. Bagaimana cara memilih produk manjakani yang aman?
Untuk mengurangi risiko, Anda bisa memperhatikan beberapa hal berikut:
- Pilih produk dari produsen yang jelas, terdaftar resmi (BPOM/otoritas terkait).
- Cek komposisi dan hindari produk dengan klaim berlebihan atau tidak masuk akal.
- Utamakan produk yang mencantumkan dosis, cara pakai, dan peringatan yang jelas.
- Jika Anda memiliki riwayat alergi atau penyakit tertentu, konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan sebelum memakai produk.
Semoga bermanfaat!
Salam tetanam!
may@tetanam







