Rumput Gajah: Pakan Ternak Super Murah Hasil Maksimal

Rumput gajah sudah lama dipakai peternak sebagai pakan hijauan utama. Namun, banyak orang baru mengenalnya sebatas “rumput tinggi untuk sapi.” Padahal, tanaman ini menyimpan potensi besar: produksi hijauan melimpah, kandungan nutrisi cukup tinggi, dan peran ekologis yang menarik.
Agar pembahasan lebih terarah, kita akan menelusuri rumput gajah mulai dari definisi, kandungan nutrisi, manfaat untuk pakan ternak, hingga cara menanamnya. Dengan begitu, kamu bisa menilai sendiri apakah rumput gajah layak menjadi “tulang punggung” pakan di kandangmu.
Rumput gajah (Cenchrus purpureus), dulu lebih dikenal dengan nama ilmiah Pennisetum purpureum, adalah jenis rumput tropis berukuran besar yang tumbuh tegak, membentuk rumpun padat, dengan tinggi bisa mencapai 2–4 meter. Batangnya tebal, beruas-ruas, dan daunnya lebar serta kasar.
Secara umum, rumput gajah dipakai sebagai:
- Pakan ternak ruminansia: sapi, kambing, domba, kerbau
- Tanaman pengendali erosi: akar rapat menahan tanah
- Bahan mulsa dan kompos: biomassa tinggi
- Bahan baku energi biomassa (di beberapa negara)
Dari gambaran ini, terlihat bahwa rumput gajah tidak hanya penting untuk peternak, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan sistem pertanian secara menyeluruh. Untuk memahami lebih dalam, mari kita mulai dari identitas ilmiahnya.
Daftar isi:
- Mengenal Tanaman Rumput Gajah (Cenchrus purpureus)
- Kandungan Nutrisi Rumput Gajah
- Rumput Gajah dan Pakan Ternak
- Perbandingan Nutrisi Rumput Gajah dengan Rumput Lain
- Fakta Unik Rumput Gajah
- Syarat Tumbuh dan Propagasi Rumput Gajah
- Tabel Panduan Singkat Menanam Rumput Gajah
- Kesimpulan
- FAQ seputar Rumput Gajah
Mengenal Tanaman Rumput Gajah (Cenchrus purpureus)
Agar pemahaman tentang rumput gajah lebih kuat, kita perlu melihatnya dari sisi taksonomi, morfologi, hingga sebaran geografis. Dengan cara itu, karakter dan perilaku tanamannya menjadi lebih jelas.
a. Taksonomi Rumput Gajah
Berikut klasifikasi ilmiah rumput gajah:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Liliopsida (monokotil)
- Ordo: Poales
- Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
- Genus: Cenchrus
- Spesies: Cenchrus purpureus (sinonim: Pennisetum purpureum)
Perubahan nama dari Pennisetum purpureum menjadi Cenchrus purpureus mengikuti pembaruan taksonomi modern. Namun, di kalangan peternak, nama lama masih sering dipakai.
b. Morfologi Rumput Gajah
Secara morfologi, rumput gajah sangat khas, sehingga mudah dikenali di lapangan:
- Batang:
Tegak, berbuku-buku, berongga, mirip tebu namun lebih kecil. Tinggi bisa 2–4 meter, bahkan lebih pada kondisi optimal. - Daun:
Panjang 60–120 cm, lebar 2–5 cm, berwarna hijau sampai hijau tua. Permukaan daun agak kasar dengan tepi tajam. - Akar:
Akar serabut yang tumbuh rapat dan kuat, efektif menahan tanah dari erosi. - Malai/bunga:
Bentuk seperti bulu atau ekor, berwarna kehijauan sampai keunguan, tergantung varietas dan umur. - Rumpun:
Membentuk rumpun padat, sering ditanam berbaris untuk memudahkan pemotongan.

Morfologi yang “bongsor” inilah yang membuat rumput gajah sangat produktif sebagai penghasil hijauan. Selanjutnya, kita lihat dari mana tanaman ini berasal dan sejauh mana penyebarannya.
Baca juga: Rumput Mombaca: Kenali dan Bandingkan dengan Rumput Lainya
c. Negara Asal dan Sebaran Geografis
Rumput gajah berasal dari Afrika tropis, terutama kawasan Afrika Timur dan Afrika Barat. Dari benua asalnya, rumput ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis dan subtropis di dunia.
Saat ini, rumput gajah telah dibudidayakan luas di:
- Asia (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, India, dll.)
- Amerika Latin dan Karibia
- Beberapa wilayah Pasifik
- Daerah tropis Afrika di luar habitat asal
Di Indonesia, rumput gajah menjadi salah satu rumput utama di sentra-sentra peternakan sapi perah, sapi potong, kambing, dan domba. Setelah mengenali asal-usul dan bentuknya, langkah berikutnya adalah memahami kandungan nutrisi yang ditawarkan.
Kandungan Nutrisi Rumput Gajah
Kualitas pakan sangat ditentukan oleh kandungan nutrisinya. Pada rumput gajah, komponen penting yang perlu diperhatikan adalah protein kasar, serat, energi, serta beberapa mineral utama.
Tabel di bawah ini hanyalah contoh komposisi nutrisi umum per 100 gram (1 kg) bahan segar rumput gajah, pada umur panen sekitar 40–60 hari. Nilai dapat sedikit berbeda tergantung varietas, tanah, pupuk, dan umur panen.
Tabel Kandungan Nutrisi Rumput Gajah per 100 g (Segar)
| Komponen | Jumlah (per 100 g) |
|---|---|
| Air | 750–800 g |
| Bahan kering (BK) | 200–250 g |
| Protein kasar (PK) | 80–140 g |
| Lemak kasar | 20–30 g |
| Serat kasar | 250–350 g (dari BK) |
| Abu (mineral total) | 20–40 g |
| Kalsium (Ca) | 3–6 g |
| Fosfor (P) | 2–4 g |
| Energi metabolis (EM) | ±1,8–2,1 Mcal/kg BK |
Sebagai catatan, angka-angka di atas diambil dari rangkuman berbagai sumber literatur hijauan pakan ternak. Untuk rujukan lebih rinci, kamu dapat membaca, misalnya:
- Laporan dan database hijauan pakan FAO.
- Publikasi tentang Cenchrus purpureus di Tropical Forages.
Setelah mengetahui kandungan nutrisinya, kini saatnya mengaitkan rumput gajah dengan kebutuhan nyata di kandang: pakan ternak harian.
Baca juga: Rumput Gajah Mini : Dari Taman Sampai Pakan Ternak

Rumput Gajah dan Pakan Ternak
Rumput gajah sangat populer sebagai pakan karena beberapa alasan utama:
- Produksi hijauan tinggi
Dalam kondisi baik, produksi hijauan bisa 200–300 ton/ha/tahun (bahan segar), tergantung varietas dan manajemen. - Panen berulang (cut and carry)
Rumput gajah tidak perlu ditanam ulang setiap musim. Setelah tanam awal, kamu hanya perlu memotong berulang kali (cut and carry system). - Protein cukup untuk hijauan dasar
Dengan PK sekitar 8–14% (berbasis bahan kering), rumput gajah cocok sebagai pakan dasar, lalu dilengkapi dengan konsentrat atau legum. - Cocok untuk berbagai ternak ruminansia
Sapi potong, sapi perah, kambing, domba, hingga kerbau dapat memakannya. Pemotongan sebaiknya dilakukan di umur 40–60 hari agar tidak terlalu tua dan keras.
Meski demikian, rumput gajah memiliki serat cukup tinggi, terutama bila dipanen terlalu tua. Karena itu, peternak sebaiknya mengombinasikan rumput gajah dengan legum (indigofera, lamtoro, gamal) atau konsentrat untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi.
Untuk melihat posisi rumput gajah dibanding rumput lain, mari kita bandingkan nutrisinya secara sederhana.
Perbandingan Nutrisi Rumput Gajah dengan Rumput Lain
Berikut adalah contoh perbandingan nutrisi rumput gajah dengan dua jenis rumput pakan ternak lain: rumput raja (king grass) dan rumput odot. Data dalam tabel merupakan kisaran umum per 100 g bahan segar.
Tabel Perbandingan Nutrisi (per 100 g, Segar)
| Jenis Rumput | BK (g) | PK (g) | Serat Kasar (g, dari BK) | EM (Mcal/kg BK) |
|---|---|---|---|---|
| Rumput gajah | 200–250 | 80–140 | 250–350 | 1,8–2,1 |
| Rumput raja | 180–230 | 90–150 | 260–360 | 1,8–2,2 |
| Rumput odot | 180–240 | 100–160 | 240–330 | 1,9–2,3 |
Secara garis besar, rumput gajah berada di level yang sebanding dengan rumput raja dan odot. Namun, pilihan rumput terbaik tetap bergantung pada:
- Ketersediaan bibit di daerahmu
- Kualitas tanah dan iklim
- Sistem pemeliharaan ternak
- Target produksi (susu, daging, penggemukan, dll.)
Setelah membahas nilai nutrisi dan perbandingan, langkah logis berikutnya adalah melihat sisi menarik lain dari tanaman ini.
Baca juga: Rumput Vetiver: Solusi Mitigasi Longsor dan Konservasi Lahan
Fakta Unik Rumput Gajah
Rumput gajah tidak hanya menarik karena tingginya produksi hijauan. Beberapa fakta unik berikut dapat memperluas perspektifmu:
- Dijuluki “elephant grass”
Nama populer internasionalnya adalah elephant grass karena ukuran besar dan potensinya digunakan untuk pakan gajah. - Berpotensi sebagai bahan baku bioenergi
Di beberapa negara, rumput gajah diteliti sebagai sumber bioenergi dan biofuel karena produksi biomassa yang luar biasa tinggi. - Efektif menahan erosi
Sistem akarnya yang lebat membuat rumput gajah sering dipakai sebagai tanaman penahan erosi di lereng-lereng lahan miring. - Ada berbagai varietas
Petani mengenal berbagai varietas: rumput gajah biasa, rumput gajah raja (king grass), rumput gajah mini/odot, dan lain-lain. Masing-masing memiliki karakter pertumbuhan yang berbeda. - Respon baik terhadap pemupukan organik
Rumput gajah cocok dipupuk dengan pupuk kandang atau kompos dari limbah ternak itu sendiri, sehingga tercipta siklus nutrisi tertutup di usaha peternakan.
Setelah mengetahui fakta unik ini, pertanyaan berikutnya adalah: apa saja syarat tumbuh dan bagaimana memperbanyaknya?

Syarat Tumbuh dan Propagasi Rumput Gajah
Rumput gajah tergolong tanaman yang relatif mudah dibudidayakan. Namun, hasil maksimal hanya tercapai bila syarat tumbuhnya diperhatikan.
1. Iklim dan suhu
- Tumbuh optimal di daerah tropis dan subtropis
- Suhu ideal: 25–35°C
- Membutuhkan penyinaran matahari penuh (full sun)
2. Curah hujan dan air
- Ideal pada curah hujan >150 mm/tahun
- Tahan terhadap kekeringan sedang, tetapi produksi turun bila kekurangan air
- Dapat dibantu irigasi pada musim kemarau
3. Tanah
- Cocok di berbagai jenis tanah, namun terbaik di tanah subur, gembur, dan kaya bahan organik
- pH tanah ideal 5,–7,
- Drainase baik, tidak tergenang terlalu lama
4. Propagasi (Perbanyakan)
Rumput gajah lebih sering diperbanyak secara vegetatif:
- Stek batang:
Potong batang dengan 2–3 ruas, tanam miring 45° atau tegak dengan satu ruas di bawah tanah. - Anakan (tunas rumpun):
Ambil anakan dari rumpun induk dan tanam di lahan baru.
Perbanyakan dengan biji jarang diterapkan dalam skala petani, karena produksi bijinya relatif rendah dan mutu bibit kurang stabil.
Setelah memahami syarat tumbuh dan cara perbanyakan, akan lebih praktis jika kita rangkum dalam panduan singkat menanam.

Tabel Panduan Singkat Menanam Rumput Gajah
Berikut panduan ringkas yang bisa langsung kamu terapkan di lapangan.
| Tahap | Langkah | Catatan Penting |
|---|---|---|
| 1. Persiapan lahan | Bersihkan gulma, cangkul/bajak sedalam 20–30 cm | Tambahkan pupuk kandang 10–20 ton/ha bila memungkinkan |
| 2. Penentuan jarak tanam | Buat bedengan atau barisan dengan jarak 70–100 cm antar baris | Jarak dalam baris 50–80 cm, sesuaikan ketersediaan lahan |
| 3. Persiapan bibit | Gunakan stek batang 2–3 ruas atau anakan sehat, bebas hama-penyakit | Pilih bibit dari rumpun produktif berumur 3–6 bulan |
| 4. Penanaman | Tanam stek miring 45° atau tegak, kedalaman 5–10 cm, padatkan tanah | Lakukan pada awal musim hujan atau saat tanah cukup lembab |
| 5. Pemupukan awal | Berikan pupuk kandang + NPK (atau pupuk organik lain) setelah tanam | Ulangi pemupukan setelah tiap 2–3 kali pemotongan |
| 6. Pengendalian gulma | Lakukan penyiangan 1–2 kali pada awal pertumbuhan | Hindari penggunaan herbisida berlebihan |
| 7. Pemeliharaan lanjutan | Pantau hama-penyakit, tambahkan pupuk bila pertumbuhan kurang optimal | Jaga ketersediaan air, terutama di musim kemarau |
| 8. Panen pertama | Panen saat umur 60–90 hari setelah tanam | Selanjutnya panen tiap 40–60 hari, tergantung pertumbuhan |
Dengan mengikuti panduan di atas, kamu dapat memulai kebun rumput gajah yang produktif dan berkelanjutan.
Sebagai penutup pembahasan utama, mari kita simpulkan poin-poin penting yang perlu diingat.
Baca juga: Jagung: Rahasia Pangan Masa Depan yang Sering Diremehkan
Kesimpulan
Rumput gajah (Cenchrus purpureus) adalah salah satu rumput tropis paling penting untuk pakan ternak ruminansia. Tanaman ini:
- Mampu menghasilkan hijauan dalam jumlah besar
- Memiliki kandungan nutrisi cukup baik sebagai pakan dasar
- Mudah dibudidayakan di berbagai kondisi lahan dan iklim tropis
- Dapat berperan sebagai penahan erosi dan sumber biomassa
Bagi peternak skala kecil hingga besar, rumput gajah layak dijadikan fondasi pakan hijauan. Dengan manajemen pemotongan yang tepat, pemupukan rutin, dan kombinasi pakan lain yang seimbang, rumput gajah dapat membantu menekan biaya pakan dan meningkatkan produktivitas ternak secara signifikan.
Untuk melengkapi panduan ini, berikut beberapa pertanyaan yang sering dicari orang terkait rumput gajah, beserta jawaban singkat dan padat.
FAQ seputar Rumput Gajah
1. Apa manfaat utama rumput gajah untuk ternak?
Rumput gajah menyediakan hijauan melimpah dengan protein cukup, sehingga cocok sebagai pakan dasar sapi, kambing, domba, dan kerbau. Tanaman ini membantu menekan biaya pakan karena produksi per hektarnya tinggi.
2. Berapa lama rumput gajah bisa dipanen kembali?
Umumnya rumput gajah dapat dipanen pertama kali pada umur 60–90 hari setelah tanam. Setelah itu, pemotongan bisa dilakukan setiap 40–60 hari, tergantung kesuburan tanah dan iklim.
3. Umur panen terbaik rumput gajah untuk pakan?
Umur panen terbaik biasanya sekitar 40–60 hari setelah pemotongan sebelumnya. Pada umur ini, kandungan protein masih cukup tinggi dan batang belum terlalu keras, sehingga lebih mudah dicerna ternak.
4. Berapa kebutuhan rumput gajah per ekor sapi per hari?
Secara umum, sapi membutuhkan hijauan sekitar 10–15% dari bobot badan per hari (bobot segar). Artinya, sapi 300 kg memerlukan sekitar 30–45 kg rumput gajah segar per hari, dikombinasikan dengan pakan lain.
5. Apa perbedaan rumput gajah dan rumput odot?
Rumput odot merupakan salah satu turunan atau tipe rumput gajah yang lebih pendek dan berdaun lebih lebar. Rumput odot lebih praktis untuk pemotongan manual, sedangkan rumput gajah biasa cenderung lebih tinggi dan berbatang besar.
6. Apakah rumput gajah bisa tumbuh di tanah miskin hara?
Rumput gajah masih bisa tumbuh di tanah miskin hara, tetapi produktivitasnya turun drastis. Untuk meningkatkan hasil, kamu perlu menambah pupuk kandang, kompos, atau pupuk NPK secara berkala agar pertumbuhan kembali optimal.
7. Bagaimana cara memperbanyak rumput gajah dengan stek?
Perbanyakan dengan stek dilakukan dengan memotong batang rumput gajah yang sudah tua tetapi masih sehat, sepanjang 20–30 cm berisi 2–3 ruas. Tanam stek secara miring atau tegak sedalam 5–10 cm, padatkan tanah di sekelilingnya, lalu jaga kelembapan sampai tunas baru muncul.
8. Apakah rumput gajah bisa untuk kambing dan domba?
Bisa. Rumput gajah sangat cocok untuk kambing dan domba, selama dipanen pada umur yang tidak terlalu tua (sekitar 40–50 hari), sehingga batang dan daun masih lunak. Untuk hasil lebih baik, kombinasikan dengan legum atau konsentrat sebagai tambahan protein.
9. Berapa jarak tanam ideal untuk rumput gajah?
Jarak tanam ideal berkisar 70–100 cm antar baris dan 50–80 cm dalam baris. Jarak ini memberi ruang cukup bagi rumpun untuk berkembang, sekaligus memudahkan akses pemupukan dan pemotongan.
10. Apakah rumput gajah perlu disiram setiap hari?
Tidak selalu. Di daerah dengan curah hujan cukup, rumput gajah tidak perlu disiram setiap hari. Namun, pada musim kemarau atau di lahan kering, penyiraman berkala sangat membantu menjaga pertumbuhan. Fokus utamanya adalah memastikan tanah tetap lembab, bukan basah berlebihan.
Salam tetanam!
jak@tetanam







