Biosaka : Rahasia Petani Hemat Pupuk dan Panen Maksimal

Dalam beberapa tahun terakhir, nama biosaka semakin sering terdengar di kalangan petani dan pemerhati pertanian. Banyak yang mengklaim, biosaka mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50–90%, sekaligus membuat tanaman lebih sehat dan tahan serangan hama penyakit.
Secara istilah, Biosaka adalah “Bio” yang berarti hayati/tumbuhan dan “SAKA” merupakan singkatan dari “Selamatkan Alam Kembali ke Alam.” Biosaka ini merupakan penemuan dari seorang petani kreatif, Pak Muhammad Anshar dari Blitar. Menurut Prof. Robert Manurung, biosaka merupakan elisitor yang dapat memperbaiki tanaman dan ekosistem. Jadi tanaman tidak harus memakai pupuk kimiawi secara berlebihan, karena hara tidak akan habis di alam dan ada proses simbiosis dan ekosistem yang terus berjalan.
Untuk memahami lebih dalam, kita perlu mengetahui konsep elisitor. Elisitor adalah molekul sinyal yang dapat memicu tanaman membentuk metabolit sekunder dan fitoaleksin, yaitu senyawa pertahanan alami. Dengan kata lain, elisitor tidak memberi makan tanaman seperti pupuk, tetapi mengaktifkan sistem imunitas dan keseimbangan fisiologis tanaman.
Di sinilah posisi biosaka menjadi menarik. Biosaka dipahami sebagai elisitor hayati yang diambil dari berbagai jenis daun dan rumput sehat di alam, kemudian dijadikan larutan sederhana melalui proses peremasan manual.
Daftar isi:
- Asal Usul Biosaka: Inovasi dari Petani Blitar
- Apa Bedanya Biosaka dengan Pupuk Biasa?
- Manfaat Biosaka untuk Tanaman dan Petani
- Cara Memilih Bahan untuk Biosaka
- Cara Membuat Biosaka Secara Sederhana
- Cara Aplikasi Biosaka pada Tanaman
- Tantangan Ilmiah: Biosaka Masih Perlu Banyak Kajian
- Penutup: Layak Dicoba, Layak Pula Diteliti
Asal Usul Biosaka: Inovasi dari Petani Blitar
Biosaka bukan hasil proyek besar di laboratorium, melainkan temuan lapangan dari seorang petani. Sejak tahun 2006, Muhamad Anshar dari Blitar mulai bereksperimen dengan larutan tumbuhan dan rerumputan. Tujuan awalnya adalah membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida.
Seiring waktu, praktik ini berkembang. Sekitar tahun 2011, biosaka mulai disosialisasikan lebih luas melalui pendampingan petani. Kemudian pada 2019, pendampingan terfokus di wilayah Kabupaten Blitar, khususnya Kecamatan Wates. Awalnya hanya 1–2 petani yang mencoba. Kini, teknologi biosaka telah menyebar hampir di setiap kecamatan di Blitar.
Pada tahap berikutnya, kalangan akademisi mulai tertarik. Prof. Robert Manurung (ITB) memperkenalkan istilah “elisitor biosaka”, setelah melihat bahwa biosaka bekerja bukan sebagai pupuk biasa, tetapi sebagai pemicu respon fisiologis dan ekologis tanaman. Di saat yang sama, Kementerian Pertanian mulai melakukan kajian formal, baik dari sisi kandungan biologis maupun uji lapang di berbagai daerah di Indonesia.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa biosaka telah naik kelas: dari praktik lokal petani menjadi objek perhatian nasional.
Apa Bedanya Biosaka dengan Pupuk Biasa?
Agar tidak terjadi salah paham, penting untuk menegaskan bahwa biosaka bukan pupuk cair biasa. Banyak orang menyamakannya dengan POC, padahal secara konsep dan cara kerja sangat berbeda.
Berikut beberapa poin pembeda penting:
- Bukan pupuk, melainkan elisitor
Pupuk berperan menambah unsur hara. Biosaka fokus memicu pertahanan, keseimbangan metabolisme, dan kesehatan ekosistem di sekitar perakaran. - Tanpa fermentasi dan tanpa penambahan mikroba
Biosaka dibuat tanpa proses fermentasi dan tanpa inokulasi mikroba tertentu. Larutan dihasilkan murni dari peremasan daun dan rumput sehat di dalam air. - Diproduksi manual, tidak dengan mesin
Penemunya menegaskan, biosaka tidak boleh dibuat dengan mesin. Proses remasan oleh tangan dianggap sangat menentukan kualitas “informasi hayati” yang larut dalam air. - Bahan selalu menyesuaikan alam
Biosaka menggunakan campuran 5–20 jenis daun dan rumput liar sehat di sekitar lahan. Komposisi ini dapat berubah mengikuti vegetasi dan kondisi lingkungan setempat. - Berorientasi ekosistem
Karena biosaka mengandalkan prinsip “Selamatkan Alam Kembali ke Alam”, pendekatannya lebih dekat dengan teknologi ekologis daripada sekadar input pupuk.
Perbedaan-perbedaan ini menjadikan biosaka sebagai pendekatan baru dalam budidaya tanaman: bukan sekadar menambah unsur hara, tetapi menghidupkan kembali daya pulih alami tanaman dan tanah.
Manfaat Biosaka untuk Tanaman dan Petani
Mengapa banyak petani tertarik mencoba biosaka? Berdasarkan pengalaman lapangan dan penuturan penemunya, beberapa manfaat yang sering dilaporkan antara lain:
- Respon tanaman yang cepat
Sekitar 24 jam setelah penyemprotan, tanaman sering menunjukkan perubahan: daun tampak lebih segar, lebih tegak, dan warna hijau terlihat lebih sehat. Hal ini mengindikasikan respon fisiologis yang aktif. - Bisa digunakan di semua fase pertumbuhan
Biosaka dapat diaplikasikan sejak fase benih, vegetatif, hingga generatif. Petani tidak perlu mengganti produk untuk tiap fase pertumbuhan tanaman. - Proses pembuatan cepat
Karena tidak melalui fermentasi, biosaka dapat dibuat dalam hitungan jam. Petani tidak harus menunggu berhari-hari seperti pada pembuatan POC. - Dosis sangat hemat
- Sekitar 40 ml biosaka untuk 15 liter air (1 tangki sprayer)
- Cukup untuk kurang lebih 1.000 m² lahan
- Untuk 1 hektare tanaman padi, kira-kira hanya membutuhkan 400 ml per aplikasi

- Frekuensi aplikasi realistis
Dari tanam sampai panen, umumnya diaplikasikan sekitar 7 kali, dengan interval 10–14 hari. Jadwal ini masih mudah diikuti petani. - Bisa untuk berbagai komoditas
Biosaka tidak hanya dicoba pada padi, tetapi juga pada jagung, cabai, tomat, kacang tanah, dan bahkan beberapa tanaman perkebunan. - Mengurangi penggunaan pupuk kimia
Pengalaman di lapangan menunjukkan potensi penurunan pupuk kimia hingga 50–90%, bila dikombinasikan dengan manajemen organik yang baik. Dampaknya jelas terasa dalam bentuk penghematan biaya produksi. - Bahan baku melimpah dan murah
Daun dan rumput liar sehat ada di hampir semua lahan pertanian. Petani tidak perlu membeli bahan khusus untuk membuat biosaka.
Dengan manfaat tersebut, biosaka berpotensi menjadi bagian penting dari strategi pertanian hemat biaya dan lebih ramah lingkungan, tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Cara Memilih Bahan untuk Biosaka
Sebelum membuat biosaka, pemilihan bahan adalah langkah krusial. Kualitas bahan sangat menentukan kualitas larutan yang dihasilkan.
Berikut panduan praktis memilih bahan:
- Pilih rumput dan daun tanaman berpohon yang:
- Sedang dalam fase pertumbuhan optimal
- Berwarna hijau segar
- Tidak terserang hama, jamur, atau virus
- Tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
- Hindari daun yang:
- Berlendir
- Busuk
- Terlihat rusak atau mengering parah
- Usahakan menggunakan 5–20 jenis dedaunan liar sehat, diambil dari lingkungan sekitar lahan. Keberagaman ini diharapkan memperkaya sinyal biologis yang masuk ke dalam larutan biosaka.

Dengan bahan yang tepat, proses selanjutnya akan lebih mendekati karakter biosaka yang diharapkan.
Cara Membuat Biosaka Secara Sederhana
Setelah bahan terkumpul, proses pembuatan biosaka dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
- Siapkan wadah dan air
Siapkan ember berisi air bersih.
- Untuk 1 genggam sedang rumput/daun: gunakan 5–10 liter air
- Untuk 1 genggam besar: gunakan 10–20 liter air
- Masukkan bahan ke dalam air
Masukkan semua daun dan rumput sehat ke dalam ember hingga terendam. - Peremasan tahap pertama (pelan)
Remas daun dan rumput pelan-pelan sambil diputar, lalu sesekali aduk agar merata.
Tahap ini berlangsung sekitar 10–15 menit, membantu pelepasan senyawa aktif secara perlahan ke dalam air. - Peremasan tahap kedua (lebih kuat)
Setelah itu, tingkatkan tekanan remasan sambil terus mengaduk.
Proses diteruskan sampai:
- Warna larutan berubah menjadi coklat gelap homogen
- Muncul busa ringan di permukaan
Total waktu dari awal hingga larutan siap biasanya 30–60 menit, tergantung jumlah dan jenis bahan.
- Gunakan bahan segar atau sedikit layu
Bahan bisa digunakan langsung dari lapangan. Beberapa praktisi lebih menyukai bahan yang dilayukan 24–48 jam, kemudian diseleksi ulang agar tidak ada daun yang terlalu kering atau rusak.
Perlu diingat, daun dan rumput tidak dihancurkan sampai lumat. Peremasan dilakukan untuk mengekstrak “informasi hayati” dan senyawa larut, bukan untuk membuat bubur daun.
Cara Aplikasi Biosaka pada Tanaman
Agar manfaat biosaka terasa maksimal, teknik aplikasinya perlu diperhatikan. Bukan hanya soal dosis, tetapi juga cara penyemprotan.
Berikut panduan aplikasinya:
- Gunakan sprayer dengan nozzle yang bisa diatur
Atur nozzle supaya menghasilkan kabut halus (drift), bukan semprotan kasar yang menetes berat. - Arahkan nozzle ke atas
Pegang sprayer sekitar 1 meter di atas tanaman, lalu arahkan nozzle ke atas sehingga kabut turun perlahan dan menyelimuti tanaman secara merata. - Perhatikan arah angin
Semprot searah angin sehingga kabut tetap mengenai tanaman dan tidak banyak terbuang. - Dosis umum
- Padi dan jagung: ± 40 ml biosaka per 15 liter air (1 tangki sprayer)
- Cabai, tomat, kacang tanah: ± 20–30 ml per tangki (15 liter), disesuaikan dengan umur dan kondisi tanaman
- Interval aplikasi: setiap 10–14 hari
Untuk budidaya yang lebih sehat, biosaka dapat disinergikan dengan pupuk organik padat dan pupuk organik cair (POC). Kombinasi ini memberi nutrisi dari pupuk, sekaligus menguatkan sistem pertahanan tanaman melalui biosaka.
Tantangan Ilmiah: Biosaka Masih Perlu Banyak Kajian
Walaupun biosaka telah menunjukkan banyak keberhasilan di lapangan, secara ilmiah masih terdapat banyak hal yang belum sepenuhnya terjelaskan. Beberapa pengamatan awal memberikan gambaran menarik.
Di antaranya adalah:
- Perkembangan pH larutan
- Larutan biosaka yang homogen umumnya memiliki pH mendekati netral (±7) saat baru dibuat.
- Setelah disimpan hingga dua minggu, pH dapat turun hingga sekitar 5 pada larutan yang kurang homogen.
- Pada larutan yang lebih stabil, pH cenderung turun ke ±6,5 dan kemudian naik lagi mendekati 7. Pola ini menunjukkan adanya dinamika kimia dan biologis selama penyimpanan.
- Nilai TDS (Total Dissolved Solids)
- TDS melonjak tinggi bila peremasan terlalu kuat dan daun hancur.
- Jika peremasan dilakukan pelan di awal dan ditekan lebih kuat tanpa menghancurkan daun, nilai TDS biasanya berada di kisaran 300–600.
- Kandungan mikroba
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa biosaka mengandung banyak mikroba menguntungkan seperti Trichoderma dan Bacillus. Di sisi lain, terdapat juga mikroba patogen penyebab penyakit padi dengan jumlah signifikan.
Fakta ini menegaskan bahwa biosaka adalah teknologi yang berbasis alam dan ekosistem, sehingga komposisinya sangat kompleks. Di sini, peluang penelitian terbentang luas bagi para akademisi di bidang mikrobiologi, fisiologi tanaman, dan ilmu tanah.
Penutup: Layak Dicoba, Layak Pula Diteliti
Biosaka menawarkan kombinasi keunggulan yang sulit diabaikan: hemat pupuk, bahan melimpah, dan sejalan dengan prinsip menyelamatkan alam kembali ke alam. Selain itu, biosaka lahir dari kepedulian seorang petani terhadap sesama petani, lalu berkembang menjadi gerakan yang kini mendapat perhatian nasional.
Bagi petani, biosaka bisa menjadi alat penting untuk:
- Menekan biaya produksi,
- Menjaga kesehatan tanaman,
- Dan mendukung sistem pertanian yang lebih ramah ekosistem.
Namun bagi peneliti dan pengambil kebijakan, biosaka adalah undangan terbuka: masih banyak misteri yang perlu diungkap, diuji, dan dipertegas secara ilmiah.
Jika Andamencari cara untuk tetap produktif tanpa bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia, maka biosaka adalah salah satu teknologi yang layak dipelajari, dicoba di lahan sendiri, dan dikembangkan bersama.
Salam tetanam!
may@tetanam








mohon maaf sedikit mengomentari artikel berjudul biosaka ini, berdasarkan isi artikel ini sebenarnya yang dibahas kemungkinan adalah Pupuk Organik Cair dari dedaunan. silahkan dicek kembali artikelnya karena setau saya namanya biosaka itu bukan pupuk tapi elisitor. proses pembuatannya juga tanpa gula, tanpa fermentasi dan tanpa pemblenderan bahan. cara aplikasi juga lebih banyak disemprotkan secara berkabut. silahkan bisa bertanya bahkan kepada pencetus atau penemu biosaka Bapak Muhammad Ansar. Saya yakin tetanam.com tidak bermaksud membuat opini yang menyesatkan. Semoga semakin berkembang dan semakin bermanfaat buat masyarakat
Terima kasih banyak atas masukannya yang sangat berharga
Anda benar, Biosaka adalah elisitor, bukan pupuk cair, dan proses pembuatannya tanpa gula, tanpa fermentasi, dan tanpa blender, dengan aplikasi lebih banyak melalui semprotan berkabut.
Artikel sudah kami perbarui agar lebih sesuai dengan konsep Biosaka yang sebenarnya, termasuk merujuk pada penjelasan dari pencetusnya, Bapak Muhammad Ansar.
Sekali lagi terima kasih atas koreksi dan dukungannya, semoga tetanam.com bisa terus bermanfaat bagi masyarakat .
Salam tetanam! Maju pertanian Indonesia!